Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh dari Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua serta menemukan dimensi baru. Dalam konteks Papua, orang-orang Papua selalu menjadi sang liyan di NKRI. Papua hanya mengacu pada kekayaan alam yang ada. Hal ini tercermin dalam eksistensi Freeport pasca-New York Agreement pada tahun 1962. Bahkan dalam berbagai catatan historis, dapat dilihat bahwa Sumber Daya Alam di Papua selalu lebih menjadi sorotan ketimbang Sumber Daya Manusianya. Bahkan stigma separatis, perilaku rasialis dan diskriminatif terhadap orang Papua masih eksis hingga saat ini. Melalui metode penelitian literatur dan meminjam perspektif poskolonial dari Frantz Fanon, orientalisme Edward Said, konsep identitas hibrid dan mimikri Homi Bhabha, teori identitas Manuel Castells, dan konsep mitos Karen Armstrong, penelitian ini menemukan dua pokok penting dalam pembahasan mengenai pengaruh Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua. Pertama, orang Papua telah terjebak dalam kepentingan politik global. Kedua, kolonialisme barat di Papua memiliki karakteristik tersendiri. Berdasarkan penggunaan teori dan konsep-konsep tersebut, tulisan ini telah menunjukkan temuan yang baru. Konsep “Anomali-Kolonial di Papua” merupakan temuan utama dalam tulisan ini yang belum pernah dibahas pada tulisan-tulisan lain. Konsep ini juga dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami korelasi antara Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua.
Copyrights © 2024