Salsabila Salsabila
Universitas Islam Al-Ihya Kuningan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Rasionalisme terhadap Narasi Radikalisme di Kolom Komentar Tiktok dalam Kasus Penolakan Rumah Ibadah di Sukabumi Salsabila Salsabila; Zaka Vikryan
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. 3 (2024): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 2 Nomor 3 October 2024 - J
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v2i3.467

Abstract

Penelitian ini berfokus pada fenomena radikalisme digital yang tercermin melalui perilaku netizen di kolom komentar TikTok, khususnya dalam merespons kasus penolakan rumah ibadah di Sukabumi. Di era digital saat ini, media sosial yang seharusnya menjadi ruang publik untuk pertukaran gagasan rasional justru sering kali bertransformasi menjadi medan persemaian narasi intoleransi yang memicu polarisasi opini publik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis isi, kajian ini membedah bagaimana prinsip-prinsip rasionalisme René Descartes dan teori Stereotip Walter Lippmann bekerja dalam membentuk pola pikir masyarakat digital. Hasil pengamatan menunjukkan adanya polarisasi nalar yang sangat kontras di tengah masyarakat. Di satu sisi, ditemukan kelompok netizen yang memiliki nalar kritis dan inklusif; mereka menggunakan akal budi untuk menguji informasi melalui "keraguan metodis", menarik argumen dari fakta sejarah, serta menjunjung tinggi etika keagamaan yang moderat. Di sisi lain, terdapat kelompok dengan nalar terbatas yang terjebak dalam stereotip sempit. Kelompok ini cenderung melakukan rasionalisasi sempit dengan menggunakan dalih administratif atau legalitas untuk membenarkan tindakan diskriminatif, yang pada dasarnya merupakan manifestasi dari prasangka kolektif yang mengakar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa berkembangnya radikalisme di ruang digital bukan semata-mata dipicu oleh perbedaan ideologi, melainkan berakar pada krisis rasionalitas publik. Melemahnya praktik berpikir reflektif dan dominasi emosi kelompok menyebabkan ruang digital kehilangan fungsi deliberatifnya. Oleh karena itu, penguatan budaya berpikir rasional, literasi digital, serta internalisasi nilai moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak untuk mereduksi konflik dan membangun harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural.