Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Masa Covid-19 di Kecamatan Cempaka Putih Elisya, Yetri; Hasbi, Fatwa; Pakpahan, Netty
Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstormin
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/japhb.v6i1.4031

Abstract

Peningkatan pengetahuan kesehatan merupakan usaha/kegiatan untuk membantu individu, kelompok, dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan baik pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan untuk mencapai hidup sehat secara optimal. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, mengubah perilaku serta meningkatkan kepatuhan, meningkatkan kualitas hidup. Pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan topik: Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) pada masa Covid-19, cara konsumsi vitamin C yang baik dan benar serta pembuatan minuman kesehatan kunyit. Metode Pengabmas Tahapan penyuluhan  dilakukan dua sesi, pertemuan sesi pertama dilaksanakan pada pagi hari dengan memberikan pre-test dan yang kedua dilaksanakan setelah diberikan materi penyuluhan tentang, kemudian diberikan post–test. Berdasarkan hasil yang didapat dapat disimpulkan masyarakat mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat, cara menggunakan vitamin C dengan baik dan benar, serta pembuatan minuman kesehatan kunyit.
PENINGKATAN PENGETAHUAN KADER PKK DASAWISMA KELURAHAN JOHAR BARU TENTANG BAHAN KOSMETIKA YANG AMAN MELALUI VIDEO & BOOKLET Elisya, Yetri; Junaedi, Junaedi; Surahman, Surahman; Puspita, Nanda
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20357

Abstract

Abstrak: Permintaan pasar akan kosmetik menjadi terus meningkat akan mendorong perkembangan industri kosmetika di Indonesia. Namun, maraknya bermacam jenis kosmetika tanpa ijin edar membawa resiko bagi penggunanya. Sejumlah studi menyebutkan bahwa beberapa sediaan produk kosmetika menunjukkan adanya kandungan pewarna berbahaya rhodamine B. Di samping itu, pemeriksaan pada lotion pemutih juga menunjukkan adanya kandungan logam berat merkuri di atas ambang batas persyaratan dari BPOM. Oleh karena itu, pada kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan kegiatan penyuluhan pada 23 orangbagi ibu-ibu kader PKK dan dasawisma tentangagar memahami cara memilih kosmetika yang tepat dan aman. KMetode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian dilakukan dengan metodeini adalah ceramah presentasi dibantu video dan pemberian booklet berisi informasi tentang bahan kimia berbahaya pada kosmetik ilegal, tanya jawab dan diskusi juga membagikan kueisoner untuk menilai tingkat pemahaman ibu-ibu. Pada awal dan setelah penyuluhan, dilakukan evaluasi Hasil pretest dan postest terhadap pengetahuan kader. tentang kosmetika yang amanHasil evaluasi menunjukkan diketahui adanya penyuluhan dapat meningkatkanpeningkatan pengetahuan skor posttest 19% lebih tinggi dari skor pretest (p=0,01)para ibu PKK dalam memilih kosmetika yang aman. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh para ibu dan pemangku kepentingan, dikarenakan ibu-ibu adalah pengguna kosmetik sehingga diharapkan dapat untuk meminimalkan resiko kesehatan akibat menggunakan penggunaan kosmetik dengan kandungan bahan berbahaya.Abstract: Market demand for cosmetics continues to increase, encouraging the development of the cosmetics industry in Indonesia. However, the proliferation of various cosmetics without distribution permits carries risks for users. Some studies state that several cosmetic product preparations contain the dangerous dye rhodamine B. In addition, examination of whitening lotions also shows that the content of the heavy metal mercury is above the threshold requirements of the BPOM. Therefore, in this community service activity, 23 women from PKK and Dasawisma cadres provided counselling on how to choose safe cosmetics. Community service activities are carried out using the lecture method and giving booklets containing information about dangerous chemicals in illegal cosmetics. At the beginning and after counselling, an evaluation of the cadres' knowledge is carried out. The evaluation results showed an increase in the posttest score, which was 19% higher than the pretest score (p=0.01). This activity is highly appreciated by mothers and stakeholders because mothers are cosmetic users, so it is hoped that they can minimize the risk of using dangerous cosmetics.
Overview of Community Knowledge on Hepatitis C Disease in the Pulo Gebang Public Housing Area, Cakung, East Jakarta Elisya, Yetri; Aulia, Septi Nurul; Junaedi; KA , Nanang
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ibnu Sina
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v11i1.2970

Abstract

Hepatitis C is a virus infection of the liver that can lead to severe complications, including cirrhosis and hepatocellular carcinoma. Despite the existence of established principles, there remains a prevalence of erroneous comprehension within the populace regarding this subject. The possession of knowledge by the general population is of paramount importance in the efforts to prevent and control hepatitis C. The objective of this study is to ascertain the level of knowledge of the residents of Pulo Gebang Residential Complex in Cakung, Jakarta Timur, with regard to hepatitis C. The nature of the research is quantitative descriptive, with a quota sampling technique employed to determine the sample size. The total number of respondents included in the study was 96. The collection of data was achieved through the utilisation of a questionnaire. The findings indicate that the majority of respondents are female (76%), aged between 18 and 59 years (83.3%), have a secondary education (50.1%), and are not employed (56.2%). The level of knowledge of the respondents was categorised as follows: 47.9% of respondents demonstrated a satisfactory level of knowledge, 33.3% demonstrated an adequate level of knowledge, and 18.8% demonstrated an insufficient level of knowledge. Nevertheless, a misperception remains regarding the manner of transmission and the existence of a vaccine. It is imperative that education on the subject is sustained in order to enhance public awareness and understanding of hepatitis C.