Amal Prihatono
ITSK RS dr. Soepraoen Malang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF LANSIA MELALUI PELATIHAN RELAKSASI DAN AKTIVASI TITIK AKUPUNKTUR Chantika Mahadini; Amal Prihatono; Puspo Wardoyo
Jurnal Medika Mengabdi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Medika Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/bvy93813

Abstract

Penurunan fungsi kognitif pada lansia dapat mengurangi kemandirian dan kualitas hidup, sedangkan kegiatan pencegahan dan perawatan mandiri berbasis komunitas masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan skor evaluasi kognitif sederhana melalui pelatihan relaksasi dan stimulasi titik akupunktur tanpa jarum, sekaligus meningkatkan kemampuan kader agar kegiatan dapat dilanjutkan. Program dilaksanakan pada 6–30 April 2026 di Posyandu Lansia Kelurahan Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, dengan peserta 30 lansia dan 10 kader. Kegiatan meliputi penilaian awal, relaksasi pernapasan dalam, relaksasi otot progresif ringan, latihan pemusatan perhatian, pelatihan akupresur pada titik Yintang, Hegu, Zusanli, dan Baihui, edukasi pola hidup sehat, pelatihan kader, pendampingan rumah, serta penilaian akhir. Evaluasi menggunakan sepuluh pertanyaan pengetahuan, sepuluh pertanyaan evaluasi kognitif sederhana yang mencakup daya ingat jangka pendek, konsentrasi, dan kecepatan respons, serta lembar observasi kompetensi kader. Hasil menunjukkan bahwa skor pengetahuan meningkat dari 39,6 menjadi 80,9, skor evaluasi kognitif sederhana meningkat dari 54,2 menjadi 79,5, dan kompetensi kader meningkat dari 42,5 menjadi 88,9. Seluruh kader mampu memandu latihan relaksasi dan akupresur pada evaluasi akhir. Modul bergambar, demonstrasi berulang, dan pendampingan individu membantu mengatasi kesulitan mengingat lokasi titik serta keterbatasan fisik peserta. Program ini layak diterapkan sebagai kegiatan komunitas yang sederhana, murah, dan berkelanjutan, tetapi evaluasi kognitif yang digunakan merupakan alat evaluasi program dan bukan instrumen diagnosis klinis.