Latar belakang: Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi baru lahir dan berperan penting dalam menurunkan angka kesakitan serta kematian bayi. World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan sebagai standar emas nutrisi bayi. Namun, cakupan ASI eksklusif global baru mencapai 44%, jauh di bawah target minimal 70%. Di Indonesia, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023 melaporkan capaian ASI eksklusif sebesar 66,1%, belum mencapai target nasional 80%. Rendahnya cakupan ini berdampak pada masih tingginya prevalensi stunting sebesar 21,5% pada tahun yang sama. Rendahnya keberhasilan ASI eksklusif disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kurangnya edukasi laktasi, stres postpartum, hambatan fisiologis, serta minimnya dukungan keluarga dan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, dikembangkan model terpadu edukasi laktasi, pijat oksitosin, dan dukungan keluarga sebagai pendekatan bio-psiko-sosial yang holistik dalam mendukung keberhasilan menyusui dan pencegahan stunting. Tujuan:Mengulas jurnal-jurnal tentang efektivitas penerapan model terpadu edukasi laktasi, pijat oksitosin, dan dukungan keluarga terhadap peningkatan keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan pencegahan stunting, serta menelaah faktor pendukung dan hambatan implementasinya. Metode:Kajian ini menggunakan pendekatan literature review dengan menelusuri jurnal nasional dan internasional melalui basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan Elsevier. Pencarian literatur mencakup publikasi 10 tahun terakhir (2014–2024) dengan kata kunci exclusive breastfeeding, oxytocin massage, lactation education, family support, dan stunting prevention. Sumber pendukung berupa buku teks, laporan kesehatan nasional, tesis, dan disertasi.