Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Kota Mataram yang diproyeksikan melebihi 560 ribu unit pada tahun 2025 berdampak langsung terhadap meningkatnya kepadatan lalu lintas, terutama pada Simpang Bersinyal Kebon Roek yang merupakan pertemuan Jalan Saleh Sungkar dan Jalan Adi Sucipto. Kondisi lalu lintas eksisting pada simpang tersebut menunjukkan tingkat kejenuhan yang relatif tinggi, dengan nilai derajat kejenuhan yang pada periode tertentu mendekati bahkan melampaui batas kritis (DJ ? 0,85). Selain itu, berdasarkan data Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah (RPIW) tahun 2022, kinerja lalu lintas pada masing-masing lengan simpang masih berada pada kondisi kurang optimal, yaitu tingkat pelayanan (Level of Service/LOS) kategori D pada lengan Jalan Adi Sucipto, kategori D pada lengan Jalan Saleh Sungkar I, serta kategori E pada lengan Jalan Saleh Sungkar II, sehingga belum memenuhi standar pelayanan minimal jalan arteri primer. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan pembangunan flyover sebagai alternatif solusi jangka panjang dalam upaya pemisahan arus lalu lintas. Analisis kinerja lalu lintas dilakukan dengan menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, simpang mengalami tundaan maksimum sebesar 157,9 detik/smp dengan tingkat pelayanan LOS F yang mengindikasikan kondisi sangat buruk. Setelah penerapan flyover, kinerja simpang mengalami perbaikan yang signifikan, ditandai dengan peningkatan tingkat pelayanan dari LOS F menjadi LOS B. Peningkatan tersebut sejalan dengan standar pelayanan minimal jalan arteri primer yang mensyaratkan arus lalu lintas yang stabil serta pergerakan kendaraan yang relatif lancar.