Marsono Marsono
Institut Teknologi dan Bisnis Tuban

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Digitalisasi Pembayaran Melalui QRIS dalam Penguatan Kinerja Transaksional pada Ekosistem UMKM di Indonesia Marsono Marsono
JURNAL PELITA MANAJEMEN Vol. 5 No. 01 (2026): Mei 2026
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jpm.v5i01.7435

Abstract

Digitalisasi pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi bagian penting dari perubahan pola transaksi pada ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan digitalisasi pembayaran melalui QRIS dalam penguatan kinerja transaksional pada ekosistem UMKM Indonesia, yang tercermin dari jumlah pengguna, jumlah merchant, volume transaksi, dan nominal transaksi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Data sekunder diperoleh melalui studi dokumentasi terhadap laporan Bank Indonesia, Statistik QRIS Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, Statistik E-Commerce Badan Pusat Statistik, serta artikel ilmiah yang relevan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa jumlah pengguna QRIS meningkat dari 45,78 juta pada 2023 menjadi 55,40 juta pada 2024, sedangkan jumlah merchant bertambah dari 30,41 juta menjadi 35,90 juta. Volume transaksi meningkat dari 2.138,2 juta transaksi pada 2023 menjadi proyeksi 6.239,7 juta transaksi pada 2024, sedangkan nominal transaksi meningkat dari Rp226,3 triliun menjadi proyeksi Rp659,9 triliun pada periode yang sama. Perkembangan tersebut menunjukkan bertambahnya titik penerimaan pembayaran dan meningkatnya intensitas pemanfaatan QRIS dalam transaksi digital. Kinerja transaksional dalam penelitian ini dimaknai sebagai perkembangan kapasitas transaksi pada tingkat ekosistem, bukan sebagai peningkatan omzet, laba, atau kinerja keuangan setiap UMKM. Implikasi dalam penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan digitalisasi UMKM tidak cukup diarahkan pada penambahan jumlah pengguna dan merchant, tetapi juga perlu mendorong pemanfaatan QRIS secara berkelanjutan serta penguatan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola transaksi digital. Penelitian ini terbatas pada penggunaan data agregat nasional sehingga belum dapat menjelaskan variasi kinerja transaksional pada tingkat masing-masing UMKM.
Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan pada Emiten Teknologi di BEI: Peran Mediasi Profitabilitas Marsono Marsono
Margin: Jurnal Lentera Managemen Keuangan Vol. 4 No. 02 (2026): Artikel In Press: Edisi Agustus 2026
Publisher : Lentera Ilmu Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59422/margin.v4i02.1283

Abstract

Penelitian ini menganalisis hubungan kinerja keuangan, profitabilitas, dan nilai perusahaan pada emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia. Persoalan utama muncul karena rasio keuangan konvensional tidak selalu bergerak searah dengan penilaian pasar pada perusahaan digital. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data sekunder dari 23 emiten teknologi selama 2021–2024, sehingga diperoleh 92 data observasi. Kinerja keuangan dibangun sebagai konstruk tingkat tinggi formatif yang dibentuk oleh struktur modal, likuiditas, dan efisiensi aset. Analisis dilakukan dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling melalui pendekatan disjoint two-stage. Hasil menunjukkan bahwa struktur modal menjadi satu-satunya dimensi signifikan pembentuk kinerja keuangan. Kinerja keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas maupun nilai perusahaan, sedangkan profitabilitas tidak terbukti memediasi hubungan tersebut pada model utama. Nilai perusahaan dapat dijelaskan sebesar 30,4 persen, tetapi daya prediksi model masih lemah berdasarkan PLSpredict dan CVPAT. Uji sensitivitas menunjukkan bahwa pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan menjadi signifikan ketika PBV atau Tobin’s Q dikeluarkan secara terpisah. Temuan ini menegaskan bahwa nilai perusahaan emiten teknologi sulit dijelaskan hanya melalui rasio akuntansi, sehingga analisis valuasi perlu dilengkapi dengan indikator nonkeuangan, seperti prospek pertumbuhan, risiko model bisnis, kekuatan ekosistem digital, dan sentimen pasar.