Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE EFFECTS OF WORK STRESS AND LEARNING ENVIRONMENT ON WORKFORCE ABSORPTION: THE MEDIATING ROLE OF INSTRUCTOR MOTIVATION IN PUBLIC VOCATIONAL TRAINING INSTITUTIONS Sion Junita Sembiring; R. Dwi Sunu Kanto; Zainul Kisman
Ekonomica Sharia: Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Ekonomi Syariah Vol. 11 No. 2 (2026): Jurnal Ekonomica Sharia : Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Ekonomi Syariah -
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36908/esha.v11i2.1771

Abstract

Penyerapan tenaga kerja merupakan indikator kunci efektivitas lembaga pelatihan kejuruan dalam mendukung hasil pasar tenaga kerja. Namun, faktor-faktor organisasi yang memengaruhi instruktur seperti stres kerja dan lingkungan belajar seringkali diabaikan dalam kebijakan pengembangan tenaga kerja. Studi ini bertujuan untuk meneliti pengaruh stres kerja dan lingkungan belajar terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan motivasi instruktur sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang melibatkan instruktur di sebuah lembaga pelatihan kejuruan negeri di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk meneliti hubungan langsung dan tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif terhadap motivasi instruktur, sedangkan lingkungan belajar memiliki pengaruh positif terhadap motivasi. Motivasi instruktur secara signifikan memengaruhi penyerapan tenaga kerja dan memediasi hubungan antara faktor-faktor organisasi dan hasil tenaga kerja. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja tidak hanya membutuhkan pengembangan kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga kebijakan organisasi yang mendukung kesejahteraan dan motivasi instruktur. Studi ini berkontribusi pada literatur tentang pendidikan kejuruan dan pengembangan sumber daya manusia dengan menyoroti motivasi instruktur sebagai mekanisme penting yang menghubungkan kondisi organisasi dengan hasil pasar tenaga kerja. Temuan ini menawarkan wawasan praktis bagi para pembuat kebijakan dan pemimpin lembaga dalam merancang intervensi berbasis motivasi untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
FINANCIAL PERFORMANCE AND FIRM SIZE ON FIRM VALUE IN THE HOSPITAL INDUSTRIES LISTED ON THE INDONESIA STOCK EXCHANGE (BEI) PERIOD 2020 - 2024 Purwani Pujiati; Zainul Kisman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Syariah (JIMESHA) Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Syariah (JIMESHA) - INPRESS
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36908/jimesha.v6i1.830

Abstract

Firm value serves as a critical indicator for companies, investors, and policymakers in evaluating equity ownership. This study aims to analyze the partial effects of financial performance—comprising liquidity, profitability, activity, and solvency ratios—alongside firm size on the value of healthcare companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2020-2024 period. A quantitative approach was employed using multiple linear regression analysis to test the hypotheses. The findings indicate that Current Ratio (CR), Return on Assets (ROA), and Total Asset (TA) have a significant partial effect on Price to Book Value (PBV), with significance values of 0.000, 0.000, and 0.001, respectively (p < 0.05). Conversely, Accounts Receivable Turnover (ART) and Solvency Ratio (SR) do not significantly influence firm value (p > 0.05). The R-squared value is 0.548, indicating that these variables contribute 54.8% to the variance in firm value, while the remaining 45.2% is influenced by other factors outside the scope of this study. These results suggest that market valuation in the healthcare sector is primarily driven by liquidity and profitability, whereas receivable management and solvency levels are less prioritized by investors in the post-pandemic era.