Penyerapan tenaga kerja merupakan indikator kunci efektivitas lembaga pelatihan kejuruan dalam mendukung hasil pasar tenaga kerja. Namun, faktor-faktor organisasi yang memengaruhi instruktur seperti stres kerja dan lingkungan belajar seringkali diabaikan dalam kebijakan pengembangan tenaga kerja. Studi ini bertujuan untuk meneliti pengaruh stres kerja dan lingkungan belajar terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan motivasi instruktur sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang melibatkan instruktur di sebuah lembaga pelatihan kejuruan negeri di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk meneliti hubungan langsung dan tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif terhadap motivasi instruktur, sedangkan lingkungan belajar memiliki pengaruh positif terhadap motivasi. Motivasi instruktur secara signifikan memengaruhi penyerapan tenaga kerja dan memediasi hubungan antara faktor-faktor organisasi dan hasil tenaga kerja. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja tidak hanya membutuhkan pengembangan kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga kebijakan organisasi yang mendukung kesejahteraan dan motivasi instruktur. Studi ini berkontribusi pada literatur tentang pendidikan kejuruan dan pengembangan sumber daya manusia dengan menyoroti motivasi instruktur sebagai mekanisme penting yang menghubungkan kondisi organisasi dengan hasil pasar tenaga kerja. Temuan ini menawarkan wawasan praktis bagi para pembuat kebijakan dan pemimpin lembaga dalam merancang intervensi berbasis motivasi untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Copyrights © 2026