Astria Gempita Fau
Sekolah Tinggi teologi KADESI, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Nasihat “Tentang Beribadah” Berdasarkan Surat Ibrani 10:19–25 Bagi Remaja Pemuda Gereja Kristen Oikumene Faomasi Cimahi Jawa Barat Astria Gempita Fau; Matius I Totok Dwikoryanto; Hestyn Natal Istanatun
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.447

Abstract

Changes in the dynamics of youth worship in the digital age show a decline in spiritual depth, a weakening of discipline in worship attendance, and a shift in youth interest towards more entertainment-oriented forms of worship. This condition is reinforced by the introduction of digital technology and artificial intelligence, which shape the mindset and spiritual behaviour of young people, preventing their theological understanding from developing optimally. In addition, the lack of biblical-based faith formation makes it difficult for adolescents to internalise the true meaning of worship. The phenomenon of increasing dependence on digital worship and passive involvement of adolescents in church communities emphasises the urgency of this research. This study aims to formulate the implementation of advice on worship based on Hebrews 10:19–25 for the worship training of young people at the Oikumene Faomasi Cimahi Christian Church. The research method used is a qualitative-descriptive approach with exegetical analysis of biblical texts and a contextual study of adolescent development. The results of the study indicate that youth worship needs to be built through a correct theological understanding, strengthening of faith identity, and commitment to the church community. The implementation of the advice in Hebrews 10:19–25 provides a strong doctrinal basis for worship training oriented towards maturity in faith. This study concludes that youth worship development must be holistic, contextual, and responsive to the spiritual needs of the digital generation.AbstrakPerubahan dinamika ibadah remaja pada era digital menunjukkan terjadinya penurunan kedalaman spiritual, melemahnya disiplin kehadiran beribadah, serta bergesernya minat remaja kepada bentuk ibadah yang lebih bersifat hiburan. Kondisi ini diperkuat oleh masuknya teknologi digital dan kecerdasan buatan yang membentuk pola pikir dan perilaku spiritual remaja sehingga pemahaman teologis mereka tidak berkembang secara optimal. Selain itu, kurangnya pembinaan iman yang berbasis biblika membuat remaja mengalami kesulitan menginternalisasi makna ibadah yang sejati. Fenomena meningkatnya ketergantungan pada ibadah digital dan keterlibatan pasif remaja dalam komunitas gereja mempertegas urgensi penelitian ini. Penelitian ini bertujuan merumuskan implementasi nasihat tentang beribadah berdasarkan Ibrani 10:19–25 bagi pembinaan ibadah remaja Gereja Kristen Oikumene Faomasi Cimahi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis eksegetis teks Alkitab dan kajian kontekstual perkembangan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah remaja perlu dibangun melalui pemahaman teologis yang benar, penguatan identitas iman, dan komitmen terhadap komunitas gereja. Implementasi nasihat Ibrani 10:19–25 memberikan dasar doktrinal yang kuat bagi pembinaan ibadah yang berorientasi pada kedewasaan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembinaan ibadah remaja harus bersifat holistik, kontekstual, dan menjawab kebutuhan spiritual generasi digital.
Fallen Leaders dan Mereduksi Celebrity Pastor Culture dalam Perspektif Etis Teologi Astria Gempita Fau; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.403

Abstract

The crisis of spiritual leadership marked by the moral downfall of church leaders (fallen leaders) poses a serious challenge to the spiritual integrity of the church today. This phenomenon does not stand alone but often stems from a culture of celebrity worship within church ministry that prioritises popularity over holiness. The culture of celebrity pastors has shifted the focus of ministry from Christ to the leader themselves, leading to abuse of authority, spiritual narcissism, and manipulation of the congregation. This phenomenon indicates a paradigm shift in leadership that no longer is based on Christian ethics and the spirituality of the cross. The purpose of this study is to critically examine how theological ethical perspectives can respond to and reduce the culture of celebrity in church leadership. Using a qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that Christ-centred Leadership Theology is the antithesis of the culture of popularity that dominates current church leadership models. In this context, the culture of celebrity pastors creates an identity crisis for church leaders that can only be addressed through theological ethics and the integrity of theological education that reshapes leadership rooted in the spirituality of the cross.AbstrakKrisis kepemimpinan rohani yang ditandai oleh kejatuhan moral para pemimpin gereja (fallen leaders) merupakan tantangan serius bagi integritas spiritual gereja masa kini. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, tetapi sering kali berakar pada budaya selebritisasi dalam pelayanan gereja yang mengagungkan popularitas lebih dari kekudusan. Budaya celebrity pastor telah menggeser orientasi pelayanan dari Kristus kepada diri pemimpin itu sendiri, yang berujung pada penyalahgunaan otoritas, narsisme spiritual, dan manipulasi jemaat. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran paradigma kepemimpinan yang tidak lagi berbasis pada etika Kristiani dan spiritualitas salib. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji secara kritis bagaimana perspektif etis teologi dapat merespons dan mereduksi budaya selebritisasi dalam kepemimpinan gereja. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa Teologi Kepemimpinan Kristus merupakan antitesis terhadap budaya popularitas yang mendominasi model kepemimpinan gereja masa kini. Dalam konteks ini, budaya pastor selebriti menciptakan krisis identitas pemimpin gereja yang hanya dapat dijawab melalui etika teologis dan integritas pendidikan teologi yang membentuk ulang kepemimpinan yang berakar pada spiritualitas salib.