Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Difference in Pregnancy Related Stress Levels Between Primigravida and Multigravida Women Novi Maulidiyah; Dyah Widodo; Heny Astutik; Ika Yudianti
Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak Vol. 19 No. 2
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/kia.v19i2.2951

Abstract

Pregnancy is a physiological process accompanied by physical, hormonal, and psychological changes that may trigger pregnancy-related stress. Maternal stress during pregnancy can disrupt hormonal balance, reduce immune function, adversely affect fetal development, and increase the risk of pregnancy complications. This study aimed to pregnancy-related stress level between primigravida and multigravida women attending a primary healthcare center in Malang City, Indonesia. This quantitative study employed a comparative cross-sectional design. The study was conducted at Janti Public Health Center, Sukun District, Malang City, from May–June 2025 among 64 pregnant women, comprising 32 primigravidas and 32 multigravidas, selected using purposive sampling. The inclusion criteria were primigravida and multigravida pregnant women with low-risk pregnancies who could operate mobile phones, while the exclusion criteria were pregnant women who received psychological therapy. Pregnancy-related stress were measured using the Pregnancy Stress Rating Scale (PSRS-36) and analyzed using the Mann-Whitney test (α = 0.05). The results showed that most primigravida experienced moderate (37.5%) and high (31.2%) levels of pregnancy-related stress, while multigravida were predominantly moderate (62.5%). There was a significant difference between the two groups (p = 0.046) with an average level of pregnancy-related stress in primigravida of 36.80 higher than in multigravida of 28.20. This study shows levels of pregnancy-related stress in primigravida mothers are higher than those in multigravida mothers, confirming that previous pregnancy experiences play a role in maternal psychological adaptation. These findings contribute to the understanding of pregnancy-related stress in the context of primary healthcare in Indonesia. Therefore, integrating pregnancy-related stress screening into routine antenatal care, as well as providing education and family support for first-time pregnant women, should be considered as strategies for early detection and management of pregnancy-related stress during pregnancy.
Hubungan Literasi Digital dengan Kesehatan Mental Remaja Qurratun Ayun; Heny Astutik; Nurul Pujiastuti; Nur Eva Aristina
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 3 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i3.344

Abstract

Literasi digital merupakan kemampuan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi melalui teknologi digital secara tepat dan bertanggung jawab. Pada remaja, tingginya penggunaan media digital dapat memberikan manfaat sekaligus menghadirkan risiko psikologis, antara lain information overload, perbandingan sosial, paparan misinformasi, cyberbullying, dan penggunaan media sosial yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan literasi digital dengan kesehatan mental remaja di Kelurahan Sukun, Kota Malang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 162 remaja usia 17–20 tahun yang dipilih dengan proportionate random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Indeks Literasi Digital dan Pediatric Symptom Checklist-17 (PSC-17), kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil menunjukkan bahwa 84,6% responden memiliki literasi digital tinggi dan 72,2% tidak berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Uji Spearman Rank menunjukkan hubungan yang signifikan antara literasi digital dan kesehatan mental dengan p = 0,001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi literasi digital, semakin rendah risiko masalah kesehatan mental. Namun, kekuatan hubungan dilaporkan lemah sehingga literasi digital bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan mental remaja. Penguatan literasi digital perlu disertai dukungan keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.