Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN KECERDASAN RELIGIUS DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWI DI MADRASAH ALIYAH NAHDLATUL ULAMA BUNTET PESANTREN Ulfah; Ahmad Roziqin; Aris Ni'matulloh Muhammad Ali Fikri; Faridah; Usep Ismail
Khidmatussifa: Journal of Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2025): KHIDMATUSSIFA : JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES
Publisher : STIT Sirojul Falah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56146/khidmatussifa.v4i2.469

Abstract

Penelitian ini mengkaji implementasi pengembangan kecerdasan religius dalam membentuk karakter siswi di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putri Buntet Pesantren. Latar belakang penelitian didasari oleh realitas bahwa lembaga pendidikan sering kali lebih mengutamakan pencapaian akademik daripada pembentukan karakter utuh, menyebabkan siswi menjadi cerdas secara intelektual namun rapuh secara moral. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep, tahapan perkembangan, perspektif Islam, strategi, proses, dan implementasi pengembangan kecerdasan religius dalam membentuk karakter siswi. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MANU Putri Buntet Pesantren tidak hanya memandang kecerdasan religius sebagai kemampuan kognitif, tetapi sebagai kemampuan holistik yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal, serta menekankan kesatuan antara akal, hati, dan perilaku. Perkembangan kecerdasan religius berlangsung melalui lima tahapan: pengenalan, pemahaman, pembiasaan, internalisasi, dan keteladanan sosial, yang didukung oleh lingkungan pesantren yang terstruktur. Dalam perspektif Islam, kecerdasan religius berorientasi pada pembentukan insan yang bertaqwa dan berakhlak mulia, yang selaras dengan konsep Islam tentang pengembangan potensi manusia secara seimbang. Strategi pengembangan meliputi integrasi kurikulum, pembiasaan ibadah, keteladanan guru, pembinaan adab, pengawasan, dan pemberian tanggung jawab, yang semuanya dilakukan secara komprehensif dan berjenjang. Implementasi pengembangan kecerdasan religius di madrasah ini lebih menekankan pada adab sebagai fondasi utama, sejalan dengan tradisi pendidikan Islam klasik, meskipun ilmu tetap diajarkan sebagai dasar pemahaman. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan komprehensif dan penekanan pada adab terbukti efektif dalam membentuk karakter siswi yang religius, santun, disiplin, dan bertanggung jawab, memberikan kontribusi penting bagi penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai religius di madrasah.
DECONSTRUCTING ACADEMIC BOUNDARIES: A MULTIDISCIPLINARY COMPARATIVE ANALYSIS OF ISLAMIC EDUCATION MANAGEMENT AND GENERAL EDUCATION MANAGEMENT Usep Ismail; Ahmad Sobirin; Muhamad Rouful Hakim; Deding Ishak; Ahmad Sukandar
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.7371

Abstract

This multidisciplinary comparative study examines the academic boundaries between Islamic educational management and general educational management, exploring their philosophical foundations, methodological approaches, and practical implications. Through systematic analysis of 189 scholarly works, this research employs a comparative multidisciplinary framework to deconstruct traditional disciplinary boundaries and identify convergence and divergence points between these two management systems. The findings reveal that while both systems share fundamental management principles planning, organizing, actuating, and controlling they diverge significantly in their epistemological foundations, value systems, and ultimate educational objectives. Islamic educational management integrates divine revelation (Al-Qur'an and Hadith) with management science, emphasizing spiritual development alongside cognitive achievement, whereas general educational management operates within secular, empiricist frameworks prioritizing vocational skills and economic productivity. However, emerging trends indicate potential for integration through shared concerns for holistic human development, quality improvement, and ethical leadership. The study identifies five key areas of substantial difference: educational purpose, philosophical foundations, curriculum management, student development approaches, and institutional governance. This research contributes to ongoing discourse on educational integration by proposing a multilayered model that respects distinctive characteristics while fostering interdisciplinary dialogue. The implications extend to policy development, curriculum design, and leadership training in diverse educational contexts, particularly in pluralistic societies managing both Islamic and secular educational institutions.