Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, termasuk sektor pangan olahan berbasis hasil perkebunan. UD. Serundeng sebagai salah satu UMKM di Kabupaten Simalungun mengalami kendala dalam pengendalian persediaan bahan baku kelapa, seperti keterlambatan pasokan, penumpukan bahan, dan tidak adanya perhitungan pemesanan yang optimal sehingga menimbulkan inefisiensi biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sistem persediaan aktual, menghitung jumlah pemesanan ekonomis (Economic Order Quantity/EOQ), serta menentukan cadangan pengaman (safety stock) dan titik pemesanan kembali (reorder point) pada UD. Serundeng. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi literatur. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model EOQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem aktual dengan frekuensi pemesanan 36 kali per tahun menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp41.734.620. Melalui metode EOQ diperoleh jumlah pemesanan optimal sebesar 17.515 kg dengan frekuensi 20 kali per tahun, safety stock 1.761 kg, reorder point 18.373 kg, maksimum persediaan 19.276 kg, dan total biaya persediaan sebesar Rp19.966.940 per tahun. Penerapan metode EOQ terbukti mampu menekan biaya persediaan sebesar 52,2% dibandingkan sistem aktual, sekaligus mengurangi risiko kehabisan maupun kelebihan bahan baku. Dengan demikian, penerapan EOQ dapat menjadi acuan kebijakan manajerial dalam pengendalian persediaan bahan baku secara lebih efisien dan berkelanjutan di UD. Serundeng.