Ahmad Taqiyuddin Takdir
UIN Palopo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEMISKINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Analisis Surah Al-An’ām 151 dan Surah Al-Isra 31): Kemiskinan Dalam Perspektif Al-Qur'an Ahmad Taqiyuddin Takdir; Ratna Umar; Achmad Abu bakar
AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Qur'an And Culture Studies
Publisher : LPPM IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/arrosyad.v3i2.1836

Abstract

Kemiskinan dalam keluarga merupajan salah satu permasalahan sosial yang kompleks dan multidimensional. Di indonesia, kemiskinan dalam keluarga masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah pedesaan dan wilayah perkotaan dengan tingkat urbanisasi tinggi. Dalam keluarga miskin, keterbatasan ekonomi dapat mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pendidikan, dan perawatan kesehatan. Hal ini sering kali menciptakan tekanan untuk mencukupi kebutuhan, sementara anak-anak mungkin merasa terabaikan atau kehilangan kesempatan untuk berkembang secara optimal.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemiskinan QS Al-An’ām 151 dan QS Al-Isra 31. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode tahlilī. Hasil dari penelitian ini memberitahukan bahwa kemiskinan di dalam sebuah keluarga sejatinya tidak harus cemas terhadap rezeki dikarenakan rezeki anak-anak mereka telah dijamin oleh Allah, dan juga rezeki mereka sendiri. Hal inilah yang menyebabkan Allah melarang keras membunuh anak karena takut ditimpa kemiskinan. Implikasi dari penelitian ini dapat dipahami mengenai larangan membunuh anak karena takut kemiskinan dan kewajiban memenuhi kebutuhan dasar dapat dijadikan landasan untuk membangun sistem sosial yang mendukung kesejahteraan keluarga dan anak-anak.
Nasakh dalam Sunah Implikasinya bagi Hukum Islam dan Tafsir Al-Qur’an Ahmad Taqiyuddin Takdir; Teguh Arafah Julianto; Nurul Hasanah
AR ROSYAD: Jurnal Keislaman dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 1 (2025): Hadis and Philosophy
Publisher : LPPM IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/70hysx16

Abstract

This article examines the concept of nasakh (abrogation) in the Sunnah of Prophet Muhammad Saw and its implications for Islamic law and Qur’anic exegesis. Nasakh is understood as the abrogation of an existing legal ruling by a subsequent one, based on a clear and authoritative Sharī‘ah evidence. The phenomenon of nasakh in the Sunnah can be found in several hadiths, such as the prohibition of visiting graves which was later permitted, the initial restriction on storing sacrificial meat for more than three days which was subsequently lifted, the allowance and later prohibition of temporary marriage (nikah mut‘ah), the prohibition and later allowance of using certain containers for wine, and the obligation of qiyam al-lail (night prayer) which was later reduced to a recommended practice. This study employs a library research method with descriptive-analytical and historical-normative approaches. The findings reveal that nasakh in the Sunnah plays a crucial role in maintaining the flexibility of Islamic law, resolving textual contradictions, and demonstrating the principle of tadarruj (gradualism) in legislation. Moreover, hadiths containing nasakh have significant implications for interpreting Qur’anic legal verses, making the study of nasakh an integral part of Islamic legal and exegetical scholarship.