Dimas Ario Sumilih
Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENANAMAN NILAI BUDAYA MAPPATABE’ DI PONDOK PESANTREN Nur Rahma; Jumadi Jumadi; Dimas Ario Sumilih
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9391

Abstract

This study aims to determine the process of instilling mappatabe' cultural values in the daily lives of adolescents at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar. This study is a descriptive study using qualitative data. To achieve this objective, the researcher used data collection techniques through observation, interviews, documents, and documentation. The data obtained was then analyzed and interpreted based on relevant theories and research results. The results showed that the process of instilling mappatabe' values at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar took place through habits and rules applied in the daily lives of the students. Students were trained to always be polite, greet others, speak softly, and ask for permission by saying tabe'. The Islamic boarding school rules reinforce these habits by emphasizing manners and imposing sanctions on students who commit violations, thereby shaping the Islamic character of students in their daily lives and creating civilized and cultured young people. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanaman nilai budaya mappatabe’ berlangsung dalam kehidupan sehari-hari pada generasi usia remaja di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Untuk mencapai tujuan itu maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumen dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penanaman nilai mappatabe’ di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar berlangsung melalui pembiasaan dan aturan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari santri. Santri dilatih untuk senantiasa bersikap sopan santun, memberi salam, berbicara lembut, serta meminta izin dengan ucapan tabe’. Aturan Pondok Pesantren menguatkan pembiasaan tersebut dengan menegaskan tata krama dan memberikan sanksi bagi santri yang melakukan pelanggaran, sehingga membentuk karakter Islami santri dalam kehidupan sehari-hari dan mewujudkan remaja yang beradab dan berbudaya.
REVITALISASI BAHASA DAERAH DAN SENI TARI MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH DAN SANGGAR SENI DI SMP NEGERI 13 MAKASSAR Zalshabila Rahmadhani; Hasni Hasni; Dimas Ario Sumilih
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14461

Abstract

The increasing penetration of popular culture in the modern era threatens the sustainability of local languages and traditional arts among urban adolescents. Therefore, cultural revitalization through formal educational institutions is an urgent step to preserve regional identity. This study aims to analyze the contribution of Makassarese language learning and the Luova Teini Dance Art Studio to the revitalization of Makassarese culture at SMP Negeri 13 Makassar using the CIPP evaluation framework (Context, Input, Process, Product) focusing on the product component. The research utilized a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, semi-structured interviews, and documentation. Research informants consisted of Makassarese language teachers, dance studio instructors, and nine students. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that learning the Makassarese language and participating in the Dance Art Studio contribute to cultural revitalization by increasing student interest, understanding of language and cultural concepts, fostering cross-ethnic appreciation, and developing social skills such as teamwork and leadership. Nevertheless, limitations remain in the active daily use of the language and deep understanding of the philosophical meanings of traditional dances. These findings emphasize that combining intracurricular and extracurricular learning based on regional culture serves as a strategic medium to revitalize local culture in multi-ethnic school environments. ABSTRAK Meningkatnya penetrasi budaya populer di era modern mengancam keberlangsungan bahasa lokal dan kesenian tradisional di kalangan remaja urban. Oleh karena itu, revitalisasi budaya melalui institusi pendidikan formal menjadi langkah mendesak untuk menjaga entitas identitas daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pembelajaran Bahasa Makassar dan Sanggar Seni Tari Luova Teini dalam revitalisasi budaya Makassar di SMP Negeri 13 Makassar dengan menggunakan kerangka evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) fokus pada komponen product. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas guru Bahasa Makassar, pembina sanggar seni, dan sembilan siswa. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Makassar dan Sanggar Seni Tari berkontribusi terhadap revitalisasi budaya melalui peningkatan minat siswa, pemahaman materi bahasa dan budaya, tumbuhnya apresiasi lintas etnis, serta pengembangan kemampuan sosial seperti kerja sama dan kepemimpinan. Meskipun demikian, masih ditemukan keterbatasan pada penggunaan bahasa secara aktif dalam kehidupan sehari-hari dan pemahaman mendalam terhadap makna filosofis tarian. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler berbasis budaya daerah merupakan sarana strategis dalam merevitalisasi budaya lokal di lingkungan sekolah multietnis.