The increasing penetration of popular culture in the modern era threatens the sustainability of local languages and traditional arts among urban adolescents. Therefore, cultural revitalization through formal educational institutions is an urgent step to preserve regional identity. This study aims to analyze the contribution of Makassarese language learning and the Luova Teini Dance Art Studio to the revitalization of Makassarese culture at SMP Negeri 13 Makassar using the CIPP evaluation framework (Context, Input, Process, Product) focusing on the product component. The research utilized a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, semi-structured interviews, and documentation. Research informants consisted of Makassarese language teachers, dance studio instructors, and nine students. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that learning the Makassarese language and participating in the Dance Art Studio contribute to cultural revitalization by increasing student interest, understanding of language and cultural concepts, fostering cross-ethnic appreciation, and developing social skills such as teamwork and leadership. Nevertheless, limitations remain in the active daily use of the language and deep understanding of the philosophical meanings of traditional dances. These findings emphasize that combining intracurricular and extracurricular learning based on regional culture serves as a strategic medium to revitalize local culture in multi-ethnic school environments. ABSTRAK Meningkatnya penetrasi budaya populer di era modern mengancam keberlangsungan bahasa lokal dan kesenian tradisional di kalangan remaja urban. Oleh karena itu, revitalisasi budaya melalui institusi pendidikan formal menjadi langkah mendesak untuk menjaga entitas identitas daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pembelajaran Bahasa Makassar dan Sanggar Seni Tari Luova Teini dalam revitalisasi budaya Makassar di SMP Negeri 13 Makassar dengan menggunakan kerangka evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) fokus pada komponen product. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas guru Bahasa Makassar, pembina sanggar seni, dan sembilan siswa. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Makassar dan Sanggar Seni Tari berkontribusi terhadap revitalisasi budaya melalui peningkatan minat siswa, pemahaman materi bahasa dan budaya, tumbuhnya apresiasi lintas etnis, serta pengembangan kemampuan sosial seperti kerja sama dan kepemimpinan. Meskipun demikian, masih ditemukan keterbatasan pada penggunaan bahasa secara aktif dalam kehidupan sehari-hari dan pemahaman mendalam terhadap makna filosofis tarian. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler berbasis budaya daerah merupakan sarana strategis dalam merevitalisasi budaya lokal di lingkungan sekolah multietnis.