Batu bara merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia yang berkontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa negara. Namun, fluktuasi harga global, meningkatnya persaingan antarnegara eksportir, serta transisi menuju energi bersih menimbulkan tantangan terhadap keberlanjutan daya saing ekspor batu bara Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya saing ekspor batu bara Indonesia di pasar internasional selama periode 2015–2025 serta membandingkannya dengan Australia, Amerika Serikat, dan Mongolia. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Trade Map–International Trade Centre (ITC), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Analisis dilakukan menggunakan empat indikator, yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA), Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), Growth RCA, dan Export Product Dynamics (EPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat dan stabil dengan nilai rata-rata RCA sebesar 19,125 dan RSCA sebesar 0,900, meskipun masih berada di bawah Mongolia dan Australia. Analisis Growth RCA menunjukkan bahwa daya saing Indonesia cenderung menguat secara terbatas dengan pertumbuhan positif pada enam dari sepuluh tahun pengamatan. Sementara itu, analisis EPD menempatkan Indonesia lebih dominan pada kuadran falling star, yang menunjukkan peningkatan pangsa ekspor terjadi pada pasar batu bara dunia yang pertumbuhannya mulai menurun. Secara keseluruhan, daya saing ekspor batu bara Indonesia masih tergolong tinggi dan mampu dipertahankan selama periode penelitian, namun menghadapi tantangan akibat melemahnya prospek pasar global. Oleh karena itu, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, diversifikasi pasar ekspor, efisiensi produksi, serta penguatan diplomasi perdagangan menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan daya saing ekspor batu bara Indonesia.