Muhammad Yuga Muhtadi
Universitas Widyatama

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Perdagangan Internasional Terhadap Negara Myanmar Yang Mengalami Konflik Internal (2021-2025) Muhammad Yuga Muhtadi; Dwi Fauziansyah Moenardy
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 7 No. 1 (2026): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/sach3972

Abstract

Konflik internal Myanmar pada tahun 2021 memicu krisis multidimensi dan sanksi ekonomi Barat yang secara teoritis berpotensi melumpuhkan perekonomian negara tersebut. Namun, terdapat anomali di lapangan di mana aktivitas perdagangan internasional justru beradaptasi dan tetap beroperasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran perdagangan internasional serta strategi adaptasi negara Myanmar dalam mempertahankan aktivitas ekonominya selama periode konflik 2021-2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi dokumentasi dan kajian literatur dari sumber data sekunder seperti Trade Map ITC dan Bank Dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdagangan internasional berperan krusial sebagai penyangga ekonomi (economic buffer) yang menahan laju kontraksi negara. Adaptasi ini dilakukan melalui dua strategi utama, yaitu pergeseran poros mitra dagang dari negara Barat ke mitra regional secara asimetris (terutama Tiongkok dan Thailand), serta pengalihan rute logistik dari pelabuhan formal ke jalur perbatasan darat (cross-border trade). Transisi rute ini memunculkan tatanan ekonomi bayangan (shadow economy) yang dikendalikan oleh kelompok-kelompok etnis bersenjata, di mana komoditas ekstraktif diekspor dan kebutuhan esensial diimpor di luar jalur perbankan resmi. Kesimpulannya, sanksi ekonomi internasional tidak sepenuhnya mematikan perdagangan Myanmar, melainkan mendorong desentralisasi aktivitas niaga menuju sistem informal di perbatasan demi mempertahankan urat nadi perekonomian domestik.