Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Tatalaksana karsinoma sel basal ulseratif berpigmen pada regio maksilar dengan teknik rekonstruksi V-Y advancement flap: Sebuah laporan kasus Ishmah Nur Faizah; Aris Cahyono
Indonesian Red Crescent Humanitarian Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Indonesian Red Crescent Humanitarian Journal
Publisher : Bulan Sabit Merah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56744/irchum.v4i2.93

Abstract

Laporan kasus ini mendeskripsikan penatalaksanaan karsinoma sel basal (BCC) pada pria 62 tahun, seorang pekerja konstruksi dengan paparan sinar UV kronis. Pasien memiliki ulkus hiperpigmentasi di pipi kiri yang terkonfirmasi secara histopatologi sebagai BCC tipe ulseratif berpigmen. Mengingat sifat invasif lokal BCC, pasien menjalani eksisi luas dengan margin 1 cm, diikuti rekonstruksi menggunakan V-Y advancement flap untuk mempertahankan estetika wajah. Prognosis pasien baik, namun pemantauan rutin tetap diperlukan untuk mencegah rekurensi. Kasus ini menyoroti urgensi deteksi dini lesi pada individu berisiko tinggi dan menunjukkan keberhasilan teknik flap dalam memberikan hasil rekonstruksi wajah yang optimal.
Seorang Laki-Laki 43 Tahun dengan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) Dwi Puji Rahayu; Aris Cahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stevens Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) merupakannreaksi hipersentivitas berat yanggdisebabkan olehhinfeksi, seperti virus Herpesssimplex atau Mycoplasma, vaksinasi, penyakitssistemik, agen-agen tertentu, makananndan obat-obatan. Insidensi SJS diperkirakan 2-3% per jutaapopulasi per tahun di Amerika Serikat danndi negara-negaraaEropa, sedangkan di Indonesia kasus SJS terjadissekitar 12 kasus per tahun. Patofisiologiidari SJS sendiri masih belum diketahui, namun penyebabbutama SJS adalah alergi obat. Paracetamolmmerupakan salah satu obat yang paling sering digunakanndan relatif aman, namunddapat menyebabkan efek sampinggberupa reaksi hipersensitivitaskkutan. Laporan kasus ini membahas tentang SJS yang timbul pada laki-laki berusia 43 tahun akibat mengkonsumsi paracetamol. Pada pasien timbul plak eritematosa, erosi, purpura, krusta, batas ireguler, multipel, pada mukosa bibir, regio frontaslis, regio fascialais, regio auris regio coli, regio thorax, regio abdomen, regio genitalia, ekstremitas superior dan ekstremitas inferior. Pasien dalam kasus ini diberikan terapi kortikosteroiddtopikal dan sistemik sertaaantibiotik sistemikk. Setelah diberikan terapi tersebut, kondisi pasien perlahan membaik.
Pitiriasis Versikolor Suriyani Januwarsih; Fathiyyatu Assa'diy Firda; Nabilla Munanda Putri; Aris Cahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pityriasis versikolor merupakan penyakit infeksi kulit kronis oleh jamur lipofilik genus Malassezia spp. yang berubah bentuk menjadi bentuk miselia karena adanya faktor predisposisi yaitu faktor eksogen dan endogen. Daerah tropis banyak dijumpai pitiriasis versikolor karena kelembaban lingkungan dan tingginya suhu. Pitiriasis versikolor lebih banyak dijumpai pada kelompok dewasa muda baik laki-laki maupun perempuan. Manifestasi klinis yang khas berupa bercak diskret dengan perubahan warna dapat hipopigmentasi, hiperpigmentasi atau eritematosa yang tertutup skuama halus terutama pada bagian atas dan ekstremitas proksimal. Pada anamnesis biasanya dapat menimbulkan rasa gatal terutama saat berkeringat tetapi dapat juga timbul tanpa rasa gatal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan finger nail sign atau coup d’ongle of Besnier yang merupakan tanda khas dari pityriasis versikolor. Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan lampu wood, pemeriksaan langsung dari bahan kerokan kulit dengan mikroskop dan larutan KOH 20% dengan gambaran khas seperti spaghetti and meat balls. Tatalaksana pada pityriasis versikolor dapat dilakukan dengan medikamentosa dan non medikamentosa. Pityriasis versikolor mempunyai prognosis baik tetapi rekurensi dapat terjadi.
Seorang Laki-Laki 25 Tahun dengan Dermatitis Venenata Ulina Dwi Ratnaasri; Aris Cahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis venenata atau dermatitis paederus adalah dermatitis iritan yang disebabkan oleh pederin yang dihasilkan oleh kumbang kelana (Paederus). Seorang laki-laki berusia 25 datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Dr. Harjono S Ponorogo dengan keluhan bercak kemerahhan disertai gatal dan perih pada bagian dada yang dirasakan sejak 4 hari yang lalu. Awalnya pasien merasakan perubahan pada kulit bagian dada berupa bercak kemerahan disertai gatal hingga pasien menggaruk secara terus -menerus, lalu timbul plenting kecil berisi cairan serta rasa perih seperti terbakar dan panas. Keluhan ini muncul secara tiba-tiba dan disadari pasien saat bangun tidur. Pasien kemudian didiagnosis dengan Dermatitis Venenataberdasarkan gejala subjektif dan objektif pada pemeriksaan fisik status dermatologis regio thorakalis anterior makula eritematosa, batas jelas, dibeberapa tempat terdapat papul dan vesikel dengan gambaran khas berjajar seperti garis lurus (linier). Dermatitis venenata merupakan salah satu bagian dari dermatitis kontak iritan tipe akut lambat yang biasanya disebakan oleh gigitan, liur, atau bulu serangga yang terbang pada malam hari, dimana gambaran klinis dan gejalanya baru muncul 8 sampai 24 jam atau lebih setelah kontak.
Laki-Laki 45 Tahun dengan Kusta Multibasiler dengan Reaksi Reversal dan Kecacatan Tingkat 2 Angesti Atiqah Ranasatri; Aris Cahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2022: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Synaps
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Bakteri menyerang saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Reaksi reversal merupakan reaksi hipersensitivitas tipe lambat ditandai dengan lesi yang telah ada menjadi memerah dan bengkak. Pasien laki-laki usia 45 tahun, datang ke Rumah Sakit Dr. Harjono S. Ponorogo dengan keluhan bercak kemerahan terasa nyeri yang timbul hampir di seluruh tubuh sejak 2 hari SMRS. Awalnya, pada 6 bulan yang lalu timbul bercak-bercak bulat berwarna kemerahan di wajah yang terasa menebal. Pada regio fasialis, auricularis dextra et sinistra, thorak, abdomen, ekstremitas superior dextra et sinistra, ekstremitas inferior dextra et sinistra terdapat makula-patch, papul-plak eritematosa multiple, berbentuk ireguler, berukuran lentikuler-plakat, berbatas tidak tegas, tersebar universal. Pasien dalam kasus ini diberikan terapi kortikosteroid methyl prednisolone 32 mg/hari serta Multi Drug Therapy-Multibacilllary (MDT-MB) selama 12-18 bulan.
Seorang Wanita Usia 24 Tahun dengan Pemfigus Vulgaris: Laporan Kasus Iffa Maulida Zufara; Aris Cahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemfigus Vulgaris (PV) adalah penyakit autoimun langka yang ditandai oleh bula flasid pada kulit dan mukosa akibat autoantibodi IgG terhadap desmoglein-3 dan desmoglein-1 yang menyebabkan hilangnya adhesi antar sel epitel (akantolisis). Secara klinis, PV menampilkan bula mudah pecah disertai erosi nyeri pada mukosa mulut dan kulit. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta konfirmasi imunopatologis dengan Direct dan Indirect Immunofluorescence (DIF/IIF) atau ELISA. Studi kasus ini melibatkan wanita usia 24 tahun dengan lesi bula multipel di tubuh dan mulut tanpa rasa gatal. Terapi meliputi kortikosteroid sistemik (methylprednisolone), antibiotik (ceftriaxone), antihistamin (loratadine), dan kortikosteroid topikal (desoximetasone). Prognosis PV umumnya baik bila diagnosis ditegakkan dini dan terapi imunosupresif diberikan secara tepat.