Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan Umur Dan Pekerjaan Terhadap Preeklamsia Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Bara-Baraya Makassar Tahun 2024 Risky Ali Muin; St Subriani
Jurnal Manajemen Bisnis dan Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2025): Volume. 1 No. 4 2025 April-June
Publisher : Edu Berjaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70817/jmbk.v1i4.33

Abstract

Latar Belakang: Preeklampsia adalah kondisi medis yang terjadi selama kehamilan, ditandai dengan hipertensi, edema, dan proteinuria, yang dapat berkembang menjadi komplikasi lebih serius seperti eklampsia atau sindrom HELLP.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia dan pekerjaan ibu hamil terhadap kejadian preeklampsia di Puskesmas Bara-Baraya Makassar. Data: yang digunakan adalah rekam medis (Data Sekunder) dari Januari hingga desember 2024 yang mencatat 19 kasus preeklampsia dari total 352 pemeriksaan kehamilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia ibu di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun meningkatkan risiko preeklampsia, begitu juga dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan stres fisik dan emosional.Metode: Penelitian ini munggunakan metode analitik observasional, yaitu penelitian Kuantitatif.Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu hamil yang datang berkunjung dipuskesmas bara-baraya makasssar, Terdapat 19 kasus ibu hamil yang terkena preeklamsia yang berkunjung dipuskesmas Bara-Baraya makassar Sample dalam penelitian ini adalah Sampel Porposive samping yang dipillih secara tidak acak berdasarkan pertimbangan tertentu.Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa baik umur maupun pekerjaan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil. Faktor umur, khususnya pada usia lebih dari 35 tahun, serta pekerjaan yang memiliki tingkat stres tinggi, Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa usia memiliki hubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia, dengan p-value 0,35 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Sebaliknya, jenis pekerjaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian preeklamsia, karena p-value yang diperoleh sebesar 0,000 dan 0,58, yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pekerjaan dan preeklamsia dalam sampel yang diuji.Disarankan Untuk memantau kesehatan ibu hamil dan menyesuaikan pekerjaan serta gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko tersebut.
Hubungan Usia Kehamilan dan Status Pekerjaan dengan Kejadian Preeklamsia di RS Bhayangkara Makassar St. Subriani; Angeline Sutjianto; Alvira Damayanti
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi Vol. 3 No. 3 (2025): Juli: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jig.v3i3.10617

Abstract

Background: Preeclampsia remains a major obstetric problem because it contributes to maternal and perinatal morbidity and mortality. Gestational age and maternal employment may be related to its occurrence, although occupational risk depends on the type and intensity of work. Objective: To analyze the association of gestational age and employment status with preeclampsia among women treated at Bhayangkara Hospital Makassar. Methods: This observational analytic study used a retrospective cross-sectional approach based on secondary medical-record data. The study included 80 women from an initial population of 100 deliveries recorded in the source report. Gestational age was categorized by trimester and employment status as working or not working. Descriptive statistics and bivariate analyses were performed. An exact test was used for the 3×2 gestational-age table because of small expected cell counts, while the association between employment and preeclampsia was assessed using Pearson's chi-square test and odds ratio (OR). Results: Preeclampsia was identified in 32 women (40.0%). All preeclampsia cases occurred in the third trimester; the association between gestational-age category and preeclampsia was significant (p<0.001). Preeclampsia occurred in 25 of 43 working women (58.1%) and 7 of 37 non-working women (18.9%). Working women had higher unadjusted odds of preeclampsia (OR=5.95; 95% CI: 2.14–16.54; p<0.001). Conclusion: Gestational-age category and employment status were associated with preeclampsia in this hospital sample. The findings should be interpreted cautiously because the analyses were unadjusted and employment was measured only as a binary status.