Nilai-nilai kearifan lokal sering kali menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran keberlanjutan di lingkungan pendidikan, termasuk di perguruan tinggi. Salah satu kearifan lokal Bali yang memiliki relevansi kuat adalah Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan). Di sisi lain, konsep Education for Sustainable Development (ESD) hadir sebagai upaya global untuk menanamkan kesadaran dan tindakan keberlanjutan melalui pendidikan. Integrasi kedua konsep ini membuka ruang yang luas bagi mahasiswa, bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai inovator yang mampu menghadirkan gagasan, praktik, dan solusi nyata untuk keberlanjutan di kampus. Kajian ini bertujuan untuk menelaah korelasi dan implementasi antara nilai Tri Hita Karana dengan konsep ESD dalam lingkungan kampus melalui peran mahasiswa sebagai inovator keberlanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai motor penggerak inovasi keberlanjutan, mulai dari praktik kecil yang berdampak langsung hingga terobosan kreatif dalam pengelolaan sumber daya kampus. Lebih jauh, integrasi nilai Tri Hita Karana terbukti mampu memberikan kerangka etis, spiritual, dan sosial dalam mendukung terciptanya budaya keberlanjutan yang berakar pada kearifan lokal namun tetap relevan dengan isu global. Melalui penghubungan nilai tersebut dengan praktik keberlanjutan yang nyata, mahasiswa dapat memperkuat identitas kampus sebagai ruang pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, kajian ini menegaskan pentingnya menjadikan mahasiswa sebagai agen transformasi yang menggabungkan kearifan lokal dan komitmen global untuk keberlanjutan khususnya melalui bidang pendidikan.