Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Nilai Gizi Substitusi Ekstrak Sawi Hijau (BrassicAnJuncea L.) pada Mie Ikan Patin (Pangasius Hypophthalmus) Davod Boanarges Hasudungan Sinaga; Lastrie Asrya; Waisaktini Margareth; S.T Austa Nusra; Azzahra Nur Fadhilah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.430

Abstract

Mie merupakan produk pangan berbasis tepung terigu yang sangat populer di Indonesia. Penambahan bahan pangan fungsional seperti ekstrak sawi hijau (Brassica juncea L.) dan daging ikan patin (Pangasius hypophthalmus) ke dalam formulasi mie berpotensi meningkatkan nilai gizi produk secara signifikan. Menggambarkan kandungan nilai gizi (kadar air, protein, lemak, dan karbohidrat) pada mie ikan patin dengan berbagai tingkat substitusi ekstrak sawi hijau dan membandingkannya dengan standar mutu SNI 2987:2015. Penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan substitusi ekstrak sawi hijau (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%) terhadap adonan mie ikan patin. Perlakuan terbaik (A5, substitusi 20%) ditentukan berdasarkan hasil uji organoleptik oleh 30 panelis tidak terlatih. Analisis proksimat dilakukan menggunakan metode AOAC (1995) di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi, meliputi analisis kadar air (metode oven), protein (mikro-Kjeldahl), lemak (Soxhlet), dan karbohidrat (by difference). Perlakuan terbaik (A5: 80% adonan mie ikan patin + 20% ekstrak sawi hijau) menghasilkan kadar air 36,70%, protein 15,38%, lemak 4,17%, dan karbohidrat 42,07% per 100 Gram produk. Dibandingkan kontrol (A1: 100% mie ikan patin tanpa sawi hijau), substitusi 20% ekstrak sawi hijau meningkatkan kadar air sebesar 2,19% dan karbohidrat sebesar 7,56%, namun menurunkan kadar protein sebesar 1,76% dan lemak sebesar 1,19%. Kadar protein produk (15,38%) telah melampaui syarat minimal SNI 2987:2015 untuk mie basah matang (≥6,0%). Substitusi ekstrak sawi hijau sebesar 20% pada mie ikan patin menghasilkan produk dengan nilai gizi yang memadai dan memenuhi standar SNI. Produk ini berpotensi sebagai alternatif pangan bergizi tinggi, khususnya sebagai sumber protein dan karbohidrat bagi masyarakat.
PENGARUH FORMULA BAREH RANDANG DENGAN PENAMBAHAN DADIH TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN BERAT BADAN TIKUS WISTAR HIPERKOLESTEROLEMIA Lastrie Asrya; Waisaktini Margareth; ST. Austa Nusra; Azzahra Nur Fadhilah; Restu Sakinah; Rozaliny Asri
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 11 No. 3 (2026): July - September
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v11i3.923

Abstract

Latar belakang: Hiperkolesterolemia merupakan kondisi peningkatan kolesterol total ≥240 mg/dl, trigliserida ≥150 mg/dl, dan LDL ≥160 mg/dl, disertai penurunan HDL <40 mg/dl, sehingga menjadi salah satu pemicu penyakit jantung koroner dan aterosklerosis. Kondisi ini dapat dikendalikan melalui pengaturan pola makan yang sehat dan seimbang, salah satunya dengan mengonsumsi pangan fungsional berupa bareh randang yang ditambah dadih. Di dalamnya terkandung bakteri asam laktat yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri patogen sekaligus meredakan tingginya kadar kolesterol darah. Tujuan penelitian: untuk mengetahui pengaruh pemberian bareh randang yang ditambah dadih terhadap penurunan kadar kolesterol total dan berat badan tikus wistar hiperkolesterolemia. Metode penelitian: true experimental dengan rancangan pre-post intervention only with randomized control group. Penelitian ini melibatkan 36 ekor tikus wistar jantan hiperkolesterolemia berusia 12 minggu dan berbobot 200 g, yang kemudian dikelompokkan ke dalam 4 kelompok, yakni kontrol (pakan standar); P1 (pakan standar + bareh randang); P2 (pakan standar + dadih); serta P3 (pakan standar + bareh randang dadih) berdosis 3,7 g/hari. Pemberian intervensi berlangsung selama 14 hari. Uji beda antar perlakuan menggunakan paired t-test, sedangkan perbedaan antarkelompok diuji dengan One-Way Anova pada taraf kepercayaan α=0,05 dan dilanjutkan uji Tukey. Hasil: Penurunan kadar kolesterol total yang signifikan hanya terjadi pada kelompok P2 dan P3 (p<0,05), sedangkan kelompok K dan P1 tidak menunjukkan penurunan bermakna. Kelompok P3 mengalami penurunan kolesterol total tertinggi sebesar 31,07%, disertai peningkatan berat badan sebesar 44,3 ± 3,69 g.
Methylmercury exposure and child malnutrition: Mechanistic pathways and epidemiological evidence - A narrative review Davod Boanarges Hasudungan Sinaga; ST Austa Nusra; Waisaktini Margareth Malau; Prasita Ayu Widyaningtias; Roma Yuliana; Lastrie Asrya
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 5 No. 4 (2026): July Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v5i4.3783

Abstract

Background: Mercury exposure has emerged as a public health concern that may contribute to impaired nutritional status among children, particularly in developing countries where environmental contamination remains prevalent. Purpose: To review the biological mechanisms and epidemiological evidence regarding the effects of methylmercury exposure on children's nutritional status. Method: A narrative review was conducted by synthesizing evidence from published studies on methylmercury exposure and child nutrition, focusing on gastrointestinal, metabolic, and endocrine mechanisms as well as epidemiological findings from various countries. Results: Methylmercury disrupts nutrient absorption, interferes with essential mineral metabolism, and alters endocrine function. Epidemiological studies consistently demonstrate associations between mercury exposure and stunting, anemia, impaired growth, and abnormal body mass index trajectories among children. Conclusion: Mercury exposure negatively affects children's nutritional status through multiple biological pathways. Further prospective studies are required to establish causality and inform preventive public health strategies.