Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-Faktor Determinan Kepatuhan Terapi Antidepresan pada Pasien dengan Gangguan Depresi: Kajian Literatur: Determinant Factors of Antidepressant Therapy Adherence in Patients with Depressive Disorders: A Literature Review I Putu Rama Suputra; Ketut Indra Purnomo; Komang Gunawan Landra
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i1.9887

Abstract

Depresi merupakan beban kesehatan global dengan risiko disabilitas yang tinggi, di mana terapi farmakologis antidepresan menjadi modalitas utama namun efektivitasnya sering terhambat oleh rendahnya kepatuhan pasien yang berujung pada resistensi terapi dan kekambuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor determinan yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien dengan gangguan depresi berdasarkan bukti empiris lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah literature review naratif dengan pencarian literatur pada database akademik bereputasi meliputi PubMed, SAGE, MDPI, dan Google Scholar dengan kriteria inklusi artikel terbitan tahun 2021–2025. Sintesis dari 11 studi terpilih menunjukkan bahwa ketidakpatuhan dipengaruhi oleh interaksi multifaktorial yang kompleks, di mana faktor efek samping obat khususnya disfungsi seksual dan peningkatan berat badan menjadi penghambat utama pada 73% kasus. Studi terbaru tahun 2025 juga menyoroti fenomena loss of responsiveness atau hilangnya responsivitas terapi saat obat dimulai kembali setelah putus berobat, yang memperburuk prognosis jangka panjang. Selain itu, faktor komorbiditas fisik seperti hipertensi dan penyakit paru kronis, serta kondisi psikologis berupa tingkat keparahan depresi dan kurangnya dukungan keluarga turut berkontribusi signifikan terhadap rendahnya kepatuhan. Disimpulkan bahwa kepatuhan terapi antidepresan sangat dipengaruhi oleh tolerabilitas efek samping dan faktor psikososial, sehingga strategi manajemen klinis harus mengintegrasikan pemilihan obat dengan profil efek samping minimal serta penguatan edukasi pasien untuk mencegah penghentian obat dini.
Hubungan Aktivitas Fisik Dan Jenis Kelamin Dengan Derajat Keparahan Osteoarthritis Lutut: Kajian Literatur: Relation of Physical Activity and Gender to the Severity of Knee Osteoarthritis: A Literature Review Bryant Nathanael Kuncoro; Ketut Indra Purnomo; Ekanova Dharmapala
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9667

Abstract

Osteoarthritis (OA) lutut merupakan penyakit degeneratif dengan prevalensi global yang terus meningkat. Jenis kelamin dan aktivitas fisik diketahui sebagai faktor risiko utama, namun interaksinya terhadap derajat keparahan penyakit masih perlu diperjelas. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dan jenis kelamin dengan derajat keparahan OA lutut berdasarkan bukti terkini. Penelitian ini menggunakan metode literature review melalui pencarian sistematis pada database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Artikel yang dipilih adalah studi observasional analitik yang dipublikasikan antara tahun 2015–2025 dengan fokus pada korelasi jenis kelamin, aktivitas fisik, dan derajat keparahan OA lutut. Sintesis literatur menunjukkan perempuan, khususnya fase pasca-menopause, memiliki prevalensi dan derajat keparahan Kellgren-Lawrence yang lebih tinggi serta persepsi nyeri yang lebih berat dibandingkan laki-laki akibat faktor hormonal. Aktivitas fisik memiliki peran ganda, intensitas moderat memberikan efek protektif dengan menurunkan risiko penyempitan celah sendi sebesar 34%, sedangkan aktivitas beban berat atau perilaku sedentari justru mempercepat degradasi sendi. Derajat keparahan OA lutut dipengaruhi secara signifikan oleh interaksi jenis kelamin dan pola aktivitas fisik. Manajemen klinis harus bersifat personal dengan mempertimbangkan aspek gender dan modifikasi aktivitas fisik yang terukur.