Usman Pasarai
PPPTMGB "LEMIGAS"

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSTRUKSI DAN EKSPRESI REKOMBINAN TUNGGAL PEPTIDA SURFAKTAN (SINGLE SUPEL CONSTRUCTION) UNTUK APLIKASI EOR (Construction and Expression of Single Recombinant Peptide Surfactant for Eor Application) Cut Nanda Sari; Usman Pasarai; Riesa K. W Rohmat; Leni Herlina; Ken Sawitri Suliandari; Onie Kristiawan; Dwiyantari Dwiyantari; Tati Kristianti; Sony Suhandono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.3

Abstract

Surfaktan yang digunakan pada aplikasi peningkatan perolehan minyak tahap lanjut pada umumnya merupakan hasil sintesis kimia. Hasil sintesis ini bersifat cepat dan efektif namun secara kuantitas sangat kecil, sehingga bila dibutuhkan dalam jumlah banyak akan membutuhkan banyak biaya untuk memproduksinya. Alternatif lain yang bisa digunakan untuk menghasilkan surfaktan adalah dengan rekayasa genetika melalui produksi rekombinan dalam mikroorganisme seperti bakteri untuk menghasilkan surfaktan berbasis peptida. Teknologi ini relatif murah dan simpel untuk dilakukan yaitu dengan manipulasi ekspresi sel inang agar menghasilkan peptida surfaktan yang dikonstruk kedalam vektor ekspresi berbasis bakteri. Pada penelitian ini dilakukan konstruksi peptida surfaktan dengan menggunakan metode overlaped reaksi berantai polimerase untuk menghasilkan surfaktan peptida sebagai peptida tunggal. Hasil analisis SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulphate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis) menunjukkan konstruksi peptida surfaktan tunggal dapat diekspresikan dengan cara diinduksi IPTG 1 mM dan dilakukan pemecahan sel untuk mendapatkan protein yang diproduksi diperiplasma. Penelitian ini membuktikan bahwa kedua konstruk berhasil diekspresikan dengan menghasilkan peptida pada ukuran yang sesuai.  Surfactant that is used in enhanced oil recovery applications is generally synthetic chemical result. This synthetic result is quick and effective but very small in quantity, so if the demand in great amount, the more expensive cost needed. The other possible alternative to produce surfactant is by genetic engineering through recombinant production in micro organism such as bacteria to produce peptide based surfactant. This technology is relatively cheap and simple to be implemented, that is by manipulating bacterial based main cell expression. In this research, construction of peptide surfactant using overlapped polymerase chain reaction method to generate surfactant peptide as single peptide. Analysis result of SDS poly acrilamid gel electrophoresis shows that single surfactant peptide construction can be expressed by induction of IPTG 1 mM and also cell cracking to obtain protein which is produced by diperiplasma. This research proves that both two constructions have been successfully expressed by producing peptide in suitable size.
MENGOPTIMALKAN PEROLEHAN MINYAK PADA LAHAN TERBATAS MENGGUNAKAN SUMUR BERARAH DAN PENDESAKAN AIR (Optimizing Oil Recovery on Limited Land Area using Directional Wells and Waterfl ooding ) Usman Pasarai; Arie Haans
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 1 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.1.9

Abstract

Makalah ini membahas studi kasus sebuah lapangan minyak yang memerlukan pengembangan tahap lanjut untuk optimisasi faktor perolehan namun terkendala oleh ketersedian lahan. Letak lapangan minyak tumpang tindih dengan konsesi batubara. Studi ini bertujuan menentukan skenario pengembangan lapangan tahap lanjut sehingga factor perolehan minyak optimal dan pada saat yang sama produksi batubara juga optimal. Berdasarkan rencana operasi penambangan serta geologi area tumpang tindih, sumur-sumur pengembangan yang terdiri atas sumur produksi dan injeksi berarah diletakkan dalam satu kluster pada area antiklin radius 500 meter. Lokasi sumur aktif juga terletak dalam kluster ini. Metode simulasi reservoir digunakan untuk evaluasi berbagai skenario pengembangan lapangan. Model simulasi reservoir divalidasi dengan metode kesetimbangan materi dan penyelarasan dengan data produksi. Skenario yang menghasilkan faktor perolehan minyak paling optimal adalah dengan menggunakan lima sumurproduksi eksisting, satu sumur injeksi eksisting, empat sumur produksi, dan satu sumur injeksi tambahan. Sumur-sumur tambahan didesain sebagai sumur berarah. Faktor perolehan minyak yang diperoleh sebesar 23.7% atau mengalami kenaikan 6.7% dibandingkan faktor perolehan pada akhir penyelarasan. Pendekatan yang dikembangkan dalam studi kasus ini dapat menjadi model dalam optimasi perolehan minyak dan gas bumi pada wilayah kerja tumpang tindih. This paper presents a case study of an oil field that requires further development to optimize the oil recovery factor on limited land area. The oil field location overlaps with coal concessions. This study aims to define a further development scenario to optimize the oil recovery factor and at the same time allow the coal to be mined optimally. Based on the mining operations plan and the geological of overlapping area, the directional development wells for production and injection will be placed in a cluster on the anticline area within radius of 500 meters, in which the active wells are situated. Reservoir simulation method is applied to evaluate various further development scenarios. Reservoir model used is validated by the material balance method and history matching process. The optimal oil recovery factor resulted by using the existing five production wells, the existing injection well, four additional productions and one additional injection wells. The additional wells are designed as directional wells. The obtained oil recovery factor is 23.7%, increased 6.7% compared to the recovery factor at the end of history matching. Approach developed in this case study is expected to be a model in optimizing of oil and gas recoveries within an overlapping working area.