Adam Pramugio Putra
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Susungan: Tradisi Adat Maanta Mayit Ka Pandan Kuburan Adam Pramugio Putra; Fira Permata Putri; Iman Ashar Tanjung; M Rifki Haikal; Risky Amalia
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 4, No 1 (2025): Etnography Januari - Juni 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v4i1.4896

Abstract

Nagari Bukik Tandang, located in Bukik Sundi District, Solok Regency, West Sumatra, has a rich history and traditions deeply rooted in Minangkabau customs. Established by early settlers around 1680, the community of Nagari Bukik Tandang formed with five major clans inhabiting the area. One of the unique traditional customs in this Nagari is "Susungan," a burial procession using a traditional bamboo bier, symbolizing the spirit of mutual cooperation and togetherness in the community. This tradition encompasses the entire burial process, from the preparation of the body to its final journey to the resting place in the cemetery. The components of the Susungan, such as the "janjang" (base), "tunggak nan ampek" (four pillars), and "puncak talang" (top canopy), hold deep symbolic meanings, reflecting the role of customs and the value of unity within the society. Although this tradition has been passed down orally without written records, the Susungan ritual remains well-preserved as an important cultural heritage in Nagari Bukik Tandang, embodying solidarity and respect for the deceased. Keyword: Susungan, Death Rituals, Minangkabau
ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA TINGKULUAK PATIAK DI NAGARI CUPAK KECAMATAN GUNUNG TALANG KABUPATEN SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT Adam Pramugio Putra; Azlin Resiana
NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 5 No. 1 (2026): April, NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/nalar.v5i1.3476

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang Analisis Semiotika Roland Barthes pada Tingkuluak patiak di Nagari Cupak. Latar belakang berlandaskan pada pentingnya pelestarian nilai budaya Minangkabau yang muncul dalam pakaian adat tradisional yakni tingkuluak patiak ditinjau dari segi bentuk, bahan, warna, dan motif sebagai simbol identitas perempuan khususnya bundo kanduang. Tujuannya adalah untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung serta menjelaskan fungsi simboliknya dalam prosesi pernikahan di Nagari Cupak. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, disertai dengan catatan lapangan terkait tingkuluak patiak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa denotasi dari tingkuluak patiak merupakan penutup kepala yang digunakan oleh perempuan memiliki bentuk seperti kipas dengan lima lipatan mengembang di sisi kanan dan kiri terbuat dari kain lame kemudian diberi kanji agar tampak kokoh. Secara konotasi berdasarkan pada bentuk lipatan yang ada di tingkuluak patiak mencerminkan simbol identitas masyarakat dengan adanya lima suku yang mendiami wilayah Nagari Cupak. Mitosnya, tingkuluak patiak dimaknai sebagai ideologi yang hidup dalam masyarakat dengan adanya penghormatan terhadap leluhur yang dianggap oleh masyarakat setempat. Tingkuluak patiak digunakan hanya saat menjalani prosesi pernikahan yang berfungsi sebagai penanda status dan kehormatan serta menegaskan peran bagi mande rubiah dan bundo kanduang di Nagari Cupak.