Azlin Resiana
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

From the Jungle to Social Media: Exploring the Phenomenon of "Celebrity" Elephants in Tesso Nilo National Park Basyarul Aziz; Azlin Resiana; Khoirun Nisa Aulia Sukmani
Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v7i1.18397

Abstract

The conflict between humans and elephants in Indonesia continues to escalate due to land expansion and forest encroachment, forcing elephants to enter settlements and agricultural areas. This phenomenon has gained widespread attention, particularly through news coverage and social media. This study examines how social media, particularly Instagram, shapes public perceptions of elephants, specifically in Tesso Nilo National Park. Using a qualitative method with a phenomenological approach and virtual ethnography, this research explores the representation of elephants as "celebrities" shaped by Mahouts (elephant handlers) through their social media posts. The findings reveal that Instagram plays a role in creating two types of perceptions: physical reality and imagery. Physical reality perceives elephants as animals that need to be cared for, fed, monitored, and trained, while the imagery constructed through social media portrays elephants as individuals with unique personalities, attracting public attention and sympathy. Some elephants, such as Domang, Tari, and Harmoni, have gained "celebrity" status due to their interactions with Mahouts, which are shared on social media, fostering emotional connections between Instagram followers and these elephants. However, this phenomenon also raises ethical discussions regarding the treatment of elephants, such as the use of chains and Mahout communication tools. This study highlights that social media can be an effective tool for conservation by raising public awareness but also opens up debates and criticisms regarding the ethics of wildlife treatment.
ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA TINGKULUAK PATIAK DI NAGARI CUPAK KECAMATAN GUNUNG TALANG KABUPATEN SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT Adam Pramugio Putra; Azlin Resiana
NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 5 No. 1 (2026): April, NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/nalar.v5i1.3476

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang Analisis Semiotika Roland Barthes pada Tingkuluak patiak di Nagari Cupak. Latar belakang berlandaskan pada pentingnya pelestarian nilai budaya Minangkabau yang muncul dalam pakaian adat tradisional yakni tingkuluak patiak ditinjau dari segi bentuk, bahan, warna, dan motif sebagai simbol identitas perempuan khususnya bundo kanduang. Tujuannya adalah untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung serta menjelaskan fungsi simboliknya dalam prosesi pernikahan di Nagari Cupak. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, disertai dengan catatan lapangan terkait tingkuluak patiak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa denotasi dari tingkuluak patiak merupakan penutup kepala yang digunakan oleh perempuan memiliki bentuk seperti kipas dengan lima lipatan mengembang di sisi kanan dan kiri terbuat dari kain lame kemudian diberi kanji agar tampak kokoh. Secara konotasi berdasarkan pada bentuk lipatan yang ada di tingkuluak patiak mencerminkan simbol identitas masyarakat dengan adanya lima suku yang mendiami wilayah Nagari Cupak. Mitosnya, tingkuluak patiak dimaknai sebagai ideologi yang hidup dalam masyarakat dengan adanya penghormatan terhadap leluhur yang dianggap oleh masyarakat setempat. Tingkuluak patiak digunakan hanya saat menjalani prosesi pernikahan yang berfungsi sebagai penanda status dan kehormatan serta menegaskan peran bagi mande rubiah dan bundo kanduang di Nagari Cupak.