Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang esensial dimiliki oleh setiap siswa. Namun, banyak siswa masih mengalami kesulitan, terutama ketika dihadapkan pada permasalahan yang kompleks dan menuntut proses berpikir reflektif. Salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan tersebut adalah Adversity Quotient (AQ), yaitu tingkat ketangguhan individu dalam menghadapi kesulitan serta kemampuannya mengubah tantangan menjadi peluang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan tipe AQ dengan mengacu pada tahapan Polya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan dua subjek siswa kelas VIII di SMP Negeri 6 Karawang Barat yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi tes pemecahan masalah matematis dan angket AQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tipe Climbers mampu menyelesaikan tiga dari empat tahap pemecahan masalah menurut Polya, yaitu memahami masalah, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil. Sebaliknya, siswa dengan tipe Campers hanya mampu menyelesaikan dua tahap. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa bertipe Climbers memiliki tingkat ketangguhan, refleksi berpikir, dan ketekunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa bertipe Campers yang cenderung berhenti ketika menghadapi kesulitan. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan ketangguhan mental melalui peningkatan Adversity Quotient dalam proses pembelajaran matematika. Guru diharapkan dapat merancang strategi pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mendorong daya juang, keuletan, dan sikap pantang menyerah siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematis