Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Reformulasi Hukum KIK: Menyeimbangkan Kepentingan Kolektif dan Individual dalam Perlindungan Hukum Tenun Cual Bangka Belitung Marlinda Marlinda; Syafri Hariansah
Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum Vol 19 No 1 (2025): Edisi Maret
Publisher : Badan Strategi Kebijakan Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30641/kebijakan.2025.V19.69-86

Abstract

The designation of Cual Weaving as Bangka Belitung Communal Intellectual Property raises legal and social problems, especially regarding the tension between collective protection and the individual rights of craftsmen. Craftsmen feel that KIK status reduces recognition of individual contributions and marketing creativity of Cual Weaving. Public perception regarding the prohibition on the use of terms “Tenun Cual” outside the craftsman group adds to the complexity of this issue. This research aims to analyze the juridical aspects to answer the question of what is the ideal legal construction in balancing communal protection and individual rights in the Tenun Cual case. Normative juridical research methods use secondary data and literature studies. This research identifies regulatory gaps in Government Regulation No. 56 of 2022 concerning KIK and Law No. 28 of 2014 concerning Copyright which does not yet accommodate the rights of individual craftsmen in a communal system, and formulate innovative legal protection models that balance the collective and the individual. Offers a layered system protection model, combining collective and individual protection with a licensing mechanism through the community and recognition of craftsmen’s innovation. The main focus is to develop legal mechanisms that can bridge the interests of cultural preservation and the fulfillment of the economic and creative rights of craftsmen. The research results show that the existing legal framework has not been able to balance communal protection with recognition of individual contributions. For this reason, a more inclusive legal reconstruction is needed to guarantee communal protection without ignoring individual economic and innovation rights, as well as recommending the formation of regulations, including regulation of use rights and community-based licensing models, in order to maintaining a balance between cultural preservation and the interests of craftsmen. An adaptive legal approach is needed so that Cual Weaving is protected as cultural heritage, but also becomes a source of prosperity through parallel and model protection mechanisms benefit-sharing which is fair. adaptive legal approach is needed so that Cual Weaving is protected as cultural heritage, but also becomes a source of prosperity through parallel and model protection mechanisms benefit- sharing which is fair.
PENGAWASAN PENGGUNAAN ALGORITMA DALAM KEBIJAKAN PUBLIK BERBASIS PRINSIP GOOD GOVERNANCE DI PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG Fabia Rekha Syabita; Syafri Hariansah; Sri Yuliana
Keadilan : Jurnal Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang Vol 24 No 3 (2026): Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/d5wn6336

Abstract

Perkembangan teknologi digital dalam penyelenggaraan pemerintahan telah mendorong penggunaan algoritma dalam kebijakan publik untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi layanan. Namun, penggunaan algoritma juga menimbulkan persoalan terkait transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan, terutama di tingkat pemerintah daerah. Peraturan kebijakan publik tentang pengawasan algoritma masih luas dan gagal mengatasi tantangan unik yang ditimbulkan oleh mekanisme kontrol sistem berbasis algoritma. Karena kesenjangan ini, praktik pemerintahan digital mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan norma tata kelola pemerintahan yang baik. Berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, studi ini bertujuan untuk meneliti kerangka legislatif yang mengawasi penggunaan algoritma dalam kebijakan publik dan menilai seberapa baik penerapannya oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan meliputi wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan bentuk pengumpulan data kualitatif lainnya dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kurangnya regulasi yang lengkap terhadap pengawasan algoritma dalam kerangka legislatif saat ini. Selain itu, mekanisme pengawasan yang telah diterapkan masih bersifat administratif dan tidak menangani masalah teknologi seperti transparansi sistem atau potensi bias dalam algoritma. Prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik tidak diterapkan secara optimal dalam keadaan ini. Yang penting, studi ini menyoroti pentingnya memperkuat legislasi dan menciptakan paradigma untuk pemantauan algoritma yang lebih terbuka, akuntabel, dan partisipatif guna mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Kata Kunci: Algoritma, Kebijakan Publik, Good governance, Pengawasan Hukum, Pemerintah Daerah
PENGAWASAN PENGGUNAAN ALGORITMA DALAM KEBIJAKAN PUBLIK BERBASIS PRINSIP GOOD GOVERNANCE DI PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG Fabia Rekha Syabita; Syafri Hariansah; Sri Yuliana
Keadilan : Jurnal Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang Vol 24 No 3 (2026): Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/d5wn6336

Abstract

Perkembangan teknologi digital dalam penyelenggaraan pemerintahan telah mendorong penggunaan algoritma dalam kebijakan publik untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi layanan. Namun, penggunaan algoritma juga menimbulkan persoalan terkait transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan, terutama di tingkat pemerintah daerah. Peraturan kebijakan publik tentang pengawasan algoritma masih luas dan gagal mengatasi tantangan unik yang ditimbulkan oleh mekanisme kontrol sistem berbasis algoritma. Karena kesenjangan ini, praktik pemerintahan digital mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan norma tata kelola pemerintahan yang baik. Berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, studi ini bertujuan untuk meneliti kerangka legislatif yang mengawasi penggunaan algoritma dalam kebijakan publik dan menilai seberapa baik penerapannya oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan meliputi wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan bentuk pengumpulan data kualitatif lainnya dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kurangnya regulasi yang lengkap terhadap pengawasan algoritma dalam kerangka legislatif saat ini. Selain itu, mekanisme pengawasan yang telah diterapkan masih bersifat administratif dan tidak menangani masalah teknologi seperti transparansi sistem atau potensi bias dalam algoritma. Prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik tidak diterapkan secara optimal dalam keadaan ini. Yang penting, studi ini menyoroti pentingnya memperkuat legislasi dan menciptakan paradigma untuk pemantauan algoritma yang lebih terbuka, akuntabel, dan partisipatif guna mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Kata Kunci: Algoritma, Kebijakan Publik, Good governance, Pengawasan Hukum, Pemerintah Daerah
Pengelompokan Usia Warga Binaan dan Kepatuhan Hak Asasi Manusia dalam Sistem Pemasyarakatan Gusron Gusron; Syafri Hariansah
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 8 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v8i1.11799

Abstract

This study aims to analyze the conformity of the age-based classification of prison inmates in Indonesia with human rights (HR) principles, evaluate the state's responsibility, and assess the potential use of Public Private Partnership (PPP) schemes in the development of age-based correctional facilities. The background of the research is based on the ongoing practice of housing juvenile, adult, and elderly inmates together in Indonesian correctional institutions, which contradicts Law Number 22 of 2022 on Corrections and international standards such as the Nelson Mandela Rules and the Convention on the Rights of the Child. The urgency of this study lies in the need to protect vulnerable groups and provide equitable, humane, and rehabilitative correctional services. This research uses a normative legal method with statutory, human rights, and international comparative approaches, supported by qualitative data analysis. The findings reveal a significant gap between legal norms and field practices, inadequate fulfillment of state obligations, and high potential for PPP schemes as an alternative solution. The novelty of this study lies in its multidimensional approach and its proposal to apply PPP in age-based correctional institution management. The study concludes that the Indonesian state has yet to fully fulfill its constitutional and international obligations concerning the treatment of vulnerable inmate groups. Therefore, it recommends strengthening implementing regulations, enhancing institutional capacity, reforming legal culture, and applying a transparent, human rights-based PPP model as a strategic solution.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian pengelompokan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan usia dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM), serta mengevaluasi tanggung jawab negara dan potensi pemanfaatan skema Public Private Partnership (PPP) dalam pembangunan lembaga pemasyarakatan (Lapas) berbasis usia. Latar belakang penelitian didasari oleh masih terjadinya penggabungan warga binaan anak, dewasa, dan lansia di Lapas Indonesia, yang bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan serta prinsip-prinsip internasional seperti Nelson Mandela Rules dan Convention on the Rights of the Child. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya perlindungan terhadap kelompok rentan dan penyediaan fasilitas pemasyarakatan yang adil, manusiawi, dan rehabilitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, HAM, dan komparatif internasional, serta analisis data secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya diskrepansi antara norma hukum dan praktik lapangan, lemahnya pemenuhan tanggung jawab negara, serta potensi besar skema PPP sebagai solusi alternatif. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan multidimensional serta usulan penerapan PPP dalam konteks pemasyarakatan berbasis usia. Kesimpulannya, negara belum sepenuhnya memenuhi kewajiban konstitusional dan internasional dalam perlakuan terhadap warga binaan usia rentan. Oleh karena itu, disarankan adanya penguatan regulasi, peningkatan kapasitas kelembagaan, reformasi budaya hukum, serta penerapan PPP berbasis prinsip transparansi dan HAM sebagai solusi strategis.
Legal Protection Against Child Sexual Exploitation Through Augmented Reality and Virtual Reality Technology Riri Rianza; Suriadi Sirait; Gusron Gusron; Muhamad Adystia Sunggara; Syafri Hariansah
Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum Vol. 2 No. 3 (2025): July : Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/mahkamah.v2i3.1542

Abstract

This research examines legal protection against child sexual exploitation through Augmented Reality (AR) and Virtual Reality (VR) technologies, which are increasingly developing in the digital era. AR combines virtual elements with the real world, while VR creates a fully immersive environment. Both offer positive opportunities and serious risks, including new crime modes such as the creation of avatars or virtual models of children for sexual purposes, grooming in virtual spaces, and the distribution of immersive child pornography. Anonymity, the difficulty of age verification, the lack of digital literacy, and the forensic challenges of 3D content are significant obstacles to law enforcement. Existing regulations, including Law No. 17 of 2016 concerning Child Protection, Law No. 1 of 2024 concerning the Second Amendment to the ITE Law, and Law No. 12 of 2022 concerning the TPKS, have provided a strong legal basis, but do not specifically regulate AR/VR technology. A normative juridical research method with a statutory and conceptual approach is used to analyze existing norms, regulatory gaps, and their relevance to international standards such as the Budapest Convention and the Lanzarote Convention. The research findings emphasize the urgency of adaptive regulatory updates to technological developments, the implementation of cybersecurity standards, mandatory age verification, and strengthening the capacity of law enforcement officers in digital investigations and AR/VR forensics. Cross-border and cross-sector collaboration is needed to expedite notice and takedown mechanisms and close legal loopholes exploited by perpetrators. These efforts are expected to create a safe digital environment for children and increase the effectiveness of legal protection in the realm of immersive technology.