Teguh Samiadi
Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

FUNGSI DAN MAKNA KESENIAN BALEGANJURPADA UPACARA PIODALAN DI PURA PUSEHDUSUN CAKAT RAYA KAMPUNG MENGGALA KECAMATAN MENGGALA TIMUR KABUPATEN TULANG BAWANG Teguh Samiadi; I Made Sudarta
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 13 No. 1 (2022): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Baleganjur di Kampung Menggala dapat dibilang eksis karena banyaknya masyarakat Bali yang beragama Hindu dan Kesenian Baleganjur merupakan bagian penting dalam upacara keagamaan dan adat masyarakat.Kesenian Baleganjur sering dipentaskan pada saat upacara piodalan Pura Puseh Kampung Menggala. Pementasan kesenian Baleganjur ini sangat ditunggu-tunggu oleh umat Hindu yang mengikuti prosesi odalan Pura Puseh. Persoalan pokok yang diteliti yaitu: Apa fungsi kesenian Baleganjur pada upacara piodalan di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang? Dan apa makna kesenian Baleganjur pada upacara piodalan di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang? Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang mengkaji dan yang dapat menggambarkan realita sosial yang kompleks dan konkrit. Fungsi kesenian Baleganjur pada Upacara Piodalan di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur memiliki dua fungsi pokok yaitu a. Fungsi Baleganjur sebagai fungsi Keagamaan/Pemujaan Kesenian tabuh Baleganjur pada odalan Pure Puseh merupakan kebutuhan yang harus ada untuk ditampilkan. Jadi fungsi Baleganjur pada odalan Pura Puseh Banjar Wira Dharma adalah untuk fungsi pemujaan atau keagamaan. Dipercaya bahwa datangnya roh leluhur, oleh masyarakat diyakini bahwa leluhur merestui apa yang menjadi harapan masyarakat dalam prosesi yang mereka lakukan. b. Fungsi Baleganjur sebagai Non Keagamaan/Kesenian Tradisional Kini setelah odalan dipentaskan kembali kesenian Baleganjur di wantilan Jabe Tengah Pura Puseh. Fungsi kali ini adalah sebagai hiburan untuk warga setelah pelaksanaan odalan Pura Puseh selesai. Dari beberapa wawancara yang penulis lakukan maka diketahui bahwa terdapat beberapa makna tentang kesenian Baleganjur pada saat upacara piodalan khususnya di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur. Makna kesenian Baleganjur tersebut adalah sebagai berikut : a. Makna Spiritual b. Makna Kerukunan d. Makna Estetika e. Makna Budaya. f. Makna Edukasi
Umat Hindu Dan Hubungan Beragama Dalam Memelihara Kerukunan Antar Umat Beragama Teguh Samiadi
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 14 No. 1 (2023): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan pasal 29 UUD 1945 : Tidak ada perbedaan diantara umat beragama karena apapun agama yang dianut oleh warga negara selalu tertuju kepada Tuhan. Tidak ada agama yang mengajarkan kepada kita kebencian antar umat bergama. Perbedaan agama yang tumbuh di Indonesia tidak dapat dihilangkan dari sejarah datangnya agama Hindu, Budha, Kristen, Islam dan Khonghocu.Perbedaan dibeberapa tempat, biasa menjadi konflik yang serius, seperti yang terjadi di Ambon, masalah Sambas, Sampit dan sebagainya.Keberadaan Agama di Desa Bumi Arum Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu adabeberapa agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia, seperti Hindu, Kristen, Islam dan Katolik.Berdasarkan data agama Hindu menempati urutan kedua setelah agama Islam.Kerukunan antar umat beragama sebagai tujuan utamapemimpin-pemimpin agama karena di era Kaliyuga banyak dari meraka yang mempunyai moral yang tidak baik. Dalam melaksanakan kegiatanmenjaga kerukunan antar umat beragama, pemimpin umat Hindu selalu berdasarkan pada Veda yang di tulis dalam kesusastraan, walaupun prilaku yang mereka lakukan berbeda, tetapi pada prinsipnya mempunyai tujuan yang sama.
Persepsi Masyarakat Mengenai Keberadaan Pura Puseh Di Desa Bali Sadhar Utara Kecamatan Banjit Kabupaten Way kanan Teguh Samiadi
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 14 No. 2 (2023): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skripsi ini membahas “Persepsi Masyarakat Mengenai Keberadaan Pura Puseh Di Desa Bali Sadhar Utara Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan”. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai mengapa di desa Bali Sadhar Utara Kecamatan BanjitKabupaten Way Kanan tidak dibangun Pura Puseh, sedangkan di desa lain di kecamatan Banjit ini sudah memiliki bangunan Pura Puseh. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriktif, menggunakan wawacara tak terstruktur atau wawacara mendalam sebagai teknik pengumpulan data dan penglolaan datasehingga penulis tidak membuat daftar pertanyaan yang baku atau struktural dalam penglolaan data agar mencegah hal-hal yang mengintervensi informan. Penulis melakukan wawancar kepada informan yang merupakan seorang sulinggih, jro mangku, Parisada desa, Parisada Kecamatan, dan masyarakat umum di desa Bali Sadhar Utara. Selain itu juga penulis menggunakan metode kepustakaan sebagai data sekunder untuk mendukung pernyataan parainforman tersebut. Data yang penulis dapatkan melalui teknik pengumpulan diatas, penulis melakukan analisis dan penglolaan data sehingga mendapatkan hasil bahwa sebenarnya Pura Puseh itu sangatpenting keberadaannya di setiap desa pakraman, karena pada dasarnya ciri khas suatu desa pakraman itu memiliki Tiga buah pura yang di sebut Tri Khayangan (tiga buah tempat suci) yang dimana salah satu bagian pura atau tempat suci tersebut adalah Pura Puseh.
Religiusitas Kidung Ibu Pertiwi Dalam Pelak Sanaan Upacara Bhuta Yadnya” Studi Kasus Desa Glagah, Kecamatan Bumi Agung, Kabupaten Lampung Timur Teguh Samiadi; Puja Indra Ningsih
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 15 No. 1 (2024): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh ketidaktahuan masyarakat tentang nilai religiusitas dan makna kidung ibu pertiwi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai religiusitas dan makna yang terkandung dalam Kidung Ibu Pertiwi, intensitas pelantunan Kidung Ibu Pertiwi dan persepsi masyarakat Hindu di desa Glagah tentang Kidung Ibu Pertiwi yang dilaksanakan pada upacara bhuta yadnya. Waktu penelitian dari bulan Juli sampai bulan September. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan kepustakaan. Teknik alalisis data yang digunakan deskriptif kualitatif non statistic, Proses analisis data menggunakan model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasilpenelitian ini adalah kidung ibu pertiwi memiliki 3 Nilai religiusitas dan 2 makna. Nilai religiusitas yang terkandung dalam Kidung Ibu Pertiwi adalah : 1) Nilai menghargai bumi dan nilai Tri Hita Karana. 2) Nilai menggagungkan, nilai menghormati bumi dan nilai hukum karma. 3) Nilai perasaan sedih, tenang, damai dan nilai rasa syukur. Makna yang terdapat dalam Kidung Ibu Pertiwi adalah bumi memberikan kesejahteraan, manusia harus merawat bumi dan diajarkan ketulusan serta kesabaran, saling memberi, memiliki kemurahan hati serta cinta kasih. Kidung ibu pertiwi sering dilantunkan di desa Gelagah, persepsi masyarakat tentang kidung ibu pertiwi adalah penting dan harus dilantunkan saat upacara bhuta yadnya.
Implementasi Ajaran Catur Paramitha Dalam Kehidupan Sehari-Hari Umat Hindu Teguh Samiadi; I Wayan Sumerta
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 15 No. 2 (2024): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rasa kemanusiaan dewasa ini telah mengalami kemerosotan yang mengkhawatirkan, bagaimana tidak setiap hari selalu ada saja kasus pemerkosaan, perampokan, perkelahian antar kampung, pembunuhan, terorisme, korupsi dan lain-lain. Semua terjadi akibat dari merosotnya moral karena dipengaruhi oleh banyak faktor, namun apapun alasannya tindak kejahatan yang merugikan orang lain tetaplah tidak dibenarkan dan seharusnya menjadi perhatian kita bagaimana membentuk karakter yang bertanggung jawab, welas asih dan memiliki rasa kemanusiaan tanpa batasan ras, agama maupun suku.Hindu mempunyai landasan yang mengajarkan umatnya menjadi manusia bermoral dan berkarakter, salah satunya adalah Catur Paramitha. Persoalan pokok yang dijadikan rumusan masalahyaitupertama, Bagaimana pemahaman umat Hindu di Desa Banjar AgungKecamatan Banjar AgungKabupaten Tulang Bawang terhadap konsep Catur Paramitha?Kedua, Bagaimana implementasi Catur Paramitha dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu di Desa Banjar AgungKecamatan Banjar AgungKabupaten Tulang Bawang?Jenis penelitian yang digunakan adalahjenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang mengkaji dan yang dapat menggambarkan realita sosial yang kompleks dan konkrit.Pemahaman umat Hindu di Desa Banjar AgungKecamatan Banjar AgungKabupaten Tulang Bawang terhadap konsep Catur Paramithayaitu (l) Maitri (bersahabat); (2) Karuna (cinta kasih); (3) Mudhita (bersimpati); (4) Upeksa (toleransi) dapat dikatakan telah dipahami dan diresapi oleh umat Hindu Desa Banjar Agung, terbukti dengan harmonisnya hubungan antar warga.ImplementasidaripelaksanaanCatur Paramita dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu di DesaBanjarAgungtelah dilaksanakan dengan baik.Umat Hindu Desa Banjar Agungdapat hidup berdampingan, serasi, selaras, harmonis dan damai. Ajaran Catur Paramita sebagai implementasi dari ajaran Tat Twam Asipatut dijadikan pedoman untuk mewujudkan kehidupan yang sempurna.
Fungsi Dan Makna Kesenian Baleganjurpada Upacara Piodalan Di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kec Amatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang Teguh Samiadi; I Made Sudarta
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 16 No. 1 (2025): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Baleganjur di Kampung Menggala dapat dibilang eksis karena banyaknya masyarakat Bali yang beragama Hindu dan Kesenian Baleganjur merupakan bagian penting dalam upacara keagamaan dan adat masyarakat.Kesenian Baleganjur sering dipentaskan pada saat upacara piodalan Pura Puseh Kampung Menggala. Pementasan kesenian Baleganjur ini sangat ditunggu-tunggu oleh umat Hindu yang mengikuti prosesi odalan Pura Puseh. Persoalan pokok yang diteliti yaitu: Apa fungsi kesenian Baleganjur pada upacara piodalan di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang? Dan apa makna kesenian Baleganjur pada upacara piodalan di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang?Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif, yaitu jenis penelitian yang mengkaji dan yang dapat menggambarkan realita sosial yang kompleks dan konkrit.Fungsi kesenian Baleganjur pada Upacara Piodalan di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur memiliki dua fungsi pokok yaitu a. Fungsi Baleganjur sebagai fungsi Keagamaan/Pemujaan Kesenian tabuh Baleganjur pada odalan Pure Puseh merupakan kebutuhan yang harus ada untuk ditampilkan. Jadi fungsi Baleganjur pada odalan Pura Puseh Banjar Wira Dharma adalah untuk fungsi pemujaan atau keagamaan. Dipercaya bahwa datangnya roh leluhur, oleh masyarakat diyakini bahwa leluhur merestui apa yang menjadi harapan masyarakat dalam prosesi yang mereka lakukan. b. Fungsi Baleganjur sebagai Non Keagamaan/Kesenian Tradisional Kini setelah odalan dipentaskan kembali kesenian Baleganjur di wantilan Jabe Tengah Pura Puseh. Fungsi kali ini adalah sebagai hiburan untuk warga setelah pelaksanaan odalan Pura Puseh selesai. Dari beberapa wawancara yang penulis lakukan maka diketahui bahwa terdapat beberapa makna tentang kesenian Baleganjur pada saat upacara piodalan khususnya di Pura Puseh Dusun Cakat Raya Kampung Menggala Kecamatan Menggala Timur. Makna kesenian Baleganjur tersebut adalah sebagai berikut : a. Makna Spiritual b. Makna Kerukunan d. Makna Estetika e. Makna Budaya. f. Makna Edukasi
Faktor-Faktor Penyebab Pindah Agama Generasi Muda Hindu Jawa Di Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur Teguh Samiadi; Ida Bagus Nyoman Suardita
Jurnal Pendidikan Agama Vol. 16 No. 2 (2025): JPA : Jurnal Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpindahan agama merupakan peristiwa yang acap kali terjadi dan sering menjadi sorotan besar di mata publik. Selain faktor-faktor eksternal, ada pula faktor internal yang juga dapat memunculkan konflik bagi individu misalnya hati yang kadang masih merasa bimbang dan ragu. Berbagai kemungkinan konflik inilah yang menjadikan perpindahan agama dilakukan kebanyakan oleh orang- orang yang berusia dewasa. Perubahan yang dialami pada masa ini terjadi secara kodrat dan para ahli menyebutkan sebagai masa transisi (peralihan).. Kematangan beragama merupakan suatu kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya, serta menjadikan nilai-nilai tersebut dalam bersikap dan bertingkah laku. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa indikator/syarat-syarat mencari pasangan hidup dalam agama Hindu dan bagaimana upaya untuk mencegah generasi muda Hindu Jawa pindah agama di Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur. Penelitian tentang Faktor-faktor penyebab pindah agama generasi muda Hindu Jawa di Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa bahasa tertulis atau lisan dari orang dan pelaku yang dapat diamati. Pendekatan kualitatif ini dilakukan untuk menjelaskan dan menganalisis fenomena individu atau kelompok, peristiwa, dinamika sosial, sikap, keyakinan, dan persepsi. Terdapat 8 (delapan) parameter yang perlu dijadikan pedoman untuk mencari pasangan (Vivāha Samskāra).” Perkawinan sempurna akan diperoleh bila pasangan suami-istri memiliki nilai 36 (tentu berasal dari agama yang sama). Adapun Upaya untuk mencegah Generasi Muda Hindu Jawa pindah agama di Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur adalah dengan penguatan pendidikan agama Hindu sejak dini. revitalisasi peran lembaga keagamaan dan adat di tengah tantangan modernisasi, globalisasi, serta dominasi agama mayoritas, eksistensi identitas keagamaan Hindu sering kali mengalami tekanan. Untuk itu, peran lembaga keagamaan dan adat Hindu perlu terus diperkuat dan direvitalisasi. Menjadikan pura sebagai pusat kegiatan spiritual dan sosial yang menarik minat generasi muda, tidak hanya tempat upacara. Pendidikan kepemimpinan dan kegiatan yang mengembangkan potensi diri sangat penting bagi generasi muda, terutama dalam konteks agama Hindu Jawa. Mengingat tantangan modernisasi dan budaya global yang terus berkembang, generasi muda Hindu Jawa perlu diberdayakan agar tetap menjaga identitas dan nilai-nilai luhur ajaran agama Hindu dalam kehidupan mereka. Di era digital saat ini, media sosial dan teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Dunia maya menjadi ruang baru untuk berinteraksi, belajar, dan membentuk pandangan hidup. Hal ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi umat Hindu, khususnya dalam upaya menguatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama di kalangan generasi muda. Pendekatan keluarga dan komunitas memegang peranan penting sebagai lingkungan pertama dan utama dalam proses pembentukan karakter dan spiritualitas anak.