Latar Belakang: Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai dengan hiperresponsivitas bronkus dan penyempitan jalan napas yang bersifat reversibel. Serangan asma akut dapat terjadi secara tiba-tiba akibat paparan alergen, infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik, perubahan cuaca, maupun faktor pencetus lainnya. Keterlambatan dalam penanganan awal sering menyebabkan perburukan kondisi pasien sehingga meningkatkan risiko kunjungan ke instalasi gawat darurat, rawat inap, bahkan komplikasi yang mengancam jiwa. Keluarga sebagai pemberi perawatan utama di rumah memiliki peran penting dalam mengenali tanda bahaya, melakukan tindakan pertolongan pertama, memberikan obat sesuai anjuran, serta menentukan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan medis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas pasien asma dan anggota keluarga sebagai caregiver. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, demonstrasi teknik penggunaan inhaler, simulasi penanganan serangan asma akut di rumah, diskusi kelompok, pembagian media edukasi, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 59,8 sebelum intervensi menjadi 92,1 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta mampu mengenali tanda awal serangan asma, 94,0% mampu mempraktikkan teknik penggunaan inhaler dengan benar, 92,0% memahami langkah-langkah penanganan awal serangan akut di rumah, 90,0% mampu mengidentifikasi faktor pencetus asma, dan 98,0% peserta menyatakan puas terhadap pelaksanaan kegiatan. Kesimpulan: Edukasi asuhan keperawatan pada pasien asma efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan manajemen serangan akut di tingkat rumah tangga. Penguatan peran keluarga sebagai caregiver diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan pengendalian asma, mengurangi risiko kekambuhan, serta menurunkan angka kunjungan ke fasilitas kesehatan akibat serangan asma yang dapat dicegah.