Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Inflasi, Keterbukaan Perdagangan, Pengangguran dan Korupsi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Negara BRICS Zafira Fatoni; Syapsan; Putri Asrina
JIBEMA: Jurnal Ilmu Bisnis, Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2026): April
Publisher : CV. Muris Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62421/jibema.v3i4.239

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inflasi, keterbukaam perdagangan, pengangguran dan korupsi terhadap pertumbuhan ekonomi negara BRICS. Kelompok negara BRICS telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama yang memengaruhi dinamika global. BRICS menyumbang porsi signifikan terhadap populasi, PDB global, serta perdagangan dunia, sehingga keberadaannya semakin strategis dalam percaturan ekonomi internasional. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi dokumentasi dengan mengumpulkan data sekunder yang telah dipublikasikan oleh lembaga internasional. Data mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, keterbukaan perdagangan, dan pengangguran diperoleh dari World Bank. sedangkan data korupsi bersumber dari Transparency International – CPI. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan periode pengamatan tahun 2010–2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi dan pengangguran berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara BRICS, sedangkan keterbukaan perdagangan dan korupsi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara BRICS. Secara simultan, seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil dari uji koefisien determinasi dengan nilai adjusted R2 sebesar 0,562 menunjukkan bahwa variabel independen dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi negara BRICS sebesar 56,2%. Sedangkan 43,8% dari variasi pertumbuhan ekonomi negara BRICS dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa pengendalian inflasi dan penurunan tingkat pengangguran menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara BRICS. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan makroekonomi yang stabil serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Analisis Daya Saing Ekspor Kelapa Kering Lima Negara Asia di Pasar Internasional Tahun 2014-2024 Yuda Manggala; Syapsan; Putri Asrina
JIBEMA: Jurnal Ilmu Bisnis, Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2026): April
Publisher : CV. Muris Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62421/jibema.v3i4.319

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui bagaimana tingkat daya saing ekspor kelapa kering Filipina, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia di pasar internasional. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari berbagai sumber, antara lain dari PSA, BPS, DCS, DOA, FAO, International Coconut Comunity, dan UN Comtrade, Trade Map. Data sekunder yang digunakan berupa data time series dalam kurun waktu 11 tahun (2014-2024). Kelapa kering yang menjadi objek penelitian adalah semua jenis kelapa kering. Metode analisis data menggunakan metode analisis kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis tingkat daya saing ekspor komoditas kelapa kering Filipina, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia di pasar internasional yang meliputi: Revealed Comparative Advantages (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Berdasarkan hasil analisis nilai rata-rata Revealed Comparative Advantage (RCA) tahun 2014-2024, lima negara Asia yaitu Filipina 103.464, Indonesia 20.179, Sri Lanka 211.852, Vietnam 4.872, dan Malaysia 1.372, yang menunjukkan tingkat keunggulan komparatif yang berbeda dalam perdagangan kelapa kering di pasar internasional. Kelapa kering Indonesia memiliki daya saing yang tinggi, dengan nilai rata-rata Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) Filipina 0,99, Indonesia 0,97, Sri Lanka 0,99, Vietnam 0,97, dan Malaysia sebesar 0,09. Hal ini mengindikasikan bahwa Filipina, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia merupakan negara pengekspor komoditas kelapa kering. Hasil ISP yang positif lebih besar dari 0 mengindikasikan bahwa komoditas kelapa kering Filipina, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia memiliki daya saing, karena nilai ekspor kelapa kering lebih besar dibandingkan nilai impor kelapa kering lima negara tersebut.
Pengaruh Ukuran Pasar, Risiko Politik, dan Keterbukaan Perdagangan Terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia Dian Handono Simare Mare; Syapsan; Cut Endang Kurniasih
JIBEMA: Jurnal Ilmu Bisnis, Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2026): April
Publisher : CV. Muris Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62421/jibema.v3i4.328

Abstract

Foreign Direct Investment memiliki peran penting sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam meningkatkan arus masuk modal, menciptakan lapangan kerja, mendorong pembangunan infrastruktur, serta transfer teknologi dan pengetahuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran pasar, risiko politik, dan keterbukaan perdagangan terhadap arus masuk Foreign Direct Investment di Indonesia dalam periode tahun 2006–2024. Ukuran pasar diproksikan dengan Gross Domestic Product (GDP) per kapita, risiko politik diproksikan dengan Political Fragility Index, sedangkan keterbukaan perdagangan diukur melalui rasio total ekspor dan impor terhadap GDP. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis regresi berganda (Ordinary Least Square) dengan menggunakan EViews 13. Data dikumpulkan melalui Badan Pusat Statistik (BPS), World Bank, dan Fragile State Index (FSI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial ukuran pasar berpengaruh positif terhadap Foreign Direct Investment, risiko politik berpengaruh negatif terhadap Foreign Direct Investment, sementara keterbukaan perdagangan tidak berpengaruh terhadap Foreign Direct Investment di Indonesia. Lebih lanjut, secara simultan ukuran pasar, risiko politik, dan keterbukaan perdagangan berpengaruh signifikan terhadap Foreign Direct Investment dengan derajat signifikansi 5%.
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Nilai Ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa Tahun 2018-2023 Inayatul Syatia; Syapsan; Putri Asrina
JIBEMA: Jurnal Ilmu Bisnis, Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2026): April
Publisher : CV. Muris Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62421/jibema.v3i4.373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh produksi CPO dalam negeri, harga CPO global, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta kebijakan European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR) terhadap nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa. Indonesia sebagai salah satu produsen utama CPO dunia memiliki peran penting dalam perdagangan internasional, namun adanya kebijakan lingkungan dari Uni Eropa seperti EUDR menjadi tantangan baru yang berpotensi memengaruhi kinerja ekspor. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder berbentuk time series yang diperoleh dari lembaga resmi seperti Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, serta publikasi internasional terkait, dengan periode pengamatan tahun 2013–2023. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan melalui uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial produksi CPO dalam negeri dan harga CPO global tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa, sedangkan nilai tukar rupiah dan kebijakan EUDR berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Kebijakan EUDR terbukti memberikan dampak negatif terhadap nilai ekspor, yang mengindikasikan bahwa pasar Uni Eropa telah bergeser menjadi pasar berbasis kepatuhan terhadap standar lingkungan. Secara simultan, seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa peningkatan daya saing ekspor tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga pada kemampuan memenuhi standar keberlanjutan dan transparansi rantai pasok dalam menghadapi regulasi global yang semakin ketat.