Industri pangan fungsional mengalami pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan preventif. Namun, tingginya risiko operasional pada produk fermentasi menuntut perusahaan untuk memiliki strategi bisnis yang kompetitif sekaligus sistem manajemen risiko yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pengembangan bisnis B-FLESA melalui pemetaan posisi kompetitif menggunakan Strategic Group Model dan mengevaluasi penerapan Enterprise Risk Management berdasarkan ISO 31000:2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada B-FLESA, perusahaan pangan fungsional berbasis fermentasi dengan produk yoghurt, kefir, kombucha, dan snack bar. Data primer diperoleh dari Business Plan B-FLESA, sedangkan data sekunder berasal dari literatur, laporan industri, dan standar ISO 31000:2018. Analisis dilakukan melalui pemetaan posisi kompetitif berdasarkan dimensi diferensiasi produk dan cakupan pasar, serta identifikasi, analisis, evaluasi, dan mitigasi risiko.Hasil penelitian menunjukkan bahwa B-FLESA berada pada kelompok focused differentiation dengan keunggulan pada inovasi produk, bahan alami, kandungan probiotik terstandarisasi, dan edukasi kesehatan. Risiko prioritas tertinggi adalah kegagalan fermentasi dan produk basi sebelum kedaluwarsa yang berdampak pada kualitas dan reputasi merek. Strategi mitigasi difokuskan pada pengendalian mutu, monitoring cold chain, SOP, dan kepatuhan regulasi. Integrasi antara Strategic Group Model dan Enterprise Risk Management menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif hanya dapat dipertahankan apabila didukung oleh pengelolaan risiko yang sistematis. Dengan demikian, pendekatan terintegrasi ini dapat meningkatkan daya saing dan ketahanan bisnis B-FLESA secara berkelanjutan. Kata Kunci: Pangan Fungsional, Fermentasi, Strategic Group Model, Focus Differentiation, Enterprise Risk Management, ISO 31000:2018, Manajemen Risiko, B-FLESA