This Author published in this journals
All Journal TEKNIK
R. Siti Rukayah
Program Studi Magister Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Hayam Wuruk 5, Kampus Undip Pleburan, Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH ACTIVITY SUPPORT TERHADAP KAWASAN PECINAN SEMARANG DI MALAM HARI Stella Prita Anugeraheni; R. Siti Rukayah; Bambang Setioko
TEKNIK Vol 36, No 1 (2015)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.403 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v36i1.7264

Abstract

Koridor Gang Warung merupakan koridor yang berada di kawasan perdagangan dan jasa ini terletak di kawasan pecinan yang merupakan kawasan bersejarah yang juga dikenal dengan sebutan “seribu kelenteng”. Keadaan lingkungan ini memiliki perbedaan pada saat malam hari. Keberadaan activity support pada malam hari berupa Waroeng Semawis merupakan salah satu kegiatan pendukung yang memiliki tujuan yakni mengembalikan fungsi kawasan pada malam hari yang mempengaruhi pada karakter visual yang muncul dari bangunan sekitarnya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh activity support berupa bazaar malam terhadap karakter visual kawasan pecinan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif rasionalistik dengan menggunakan analisa deskriptif dan pengujian regresi karena tujuan dari penelitian ini adalah menggali informasi mengenai pengaruh kegiatan activity support. Metode ini digunakan karena adanya perbedaan penilaian dan persepsi individu terhadap karakter visual yang disebabkan oleh activiy support pada malam hari. Adanya activity support berupa Waroeng Semawis dapat memberikan kontribusi dalam pengenalan karakter pecinan di koridor gang warung ini dengan keramaian dan beberapa kegiatan di dalamnya, yang tentunya diperkuat dengan adanya pencahayaan yang berasal dari kios, sehingga memunculkan kegiatan yang memberi kesan penciptaan karakter visual kawasan.[Influence of Activity Support Towards Visual Characteristic of Chinatown at Night] Gang Warung corridor is a corridor in the area of trade and services, that located in the Chinatown area which is a historical district which is also known as the "thousand temples". It has a different environmental conditions during the night. The existence of support activity at night in the form of Waroeng Semawis is one of the supporting activities that have the purpose of restoring the function of the area at night which affect the visual character of the surrounding buildings appear. This study has the purpose to determine the effect of a support activity to the night bazaar area of the visual character of Chinatown. Quantitative is the method used with rationalistic method using descriptive analysis and regression testing for the purpose of this study is to explore the influence of information on the activities of the activity support. This method is used because of differences in assessment and individual's perception of the visual character caused by activity support during the night. The existence of a activity support, Waroeng Semawis can contribute in Chinatown characteristic recognition in this shop alley corridor with the crowd and some of the activities in it, which is certainly reinforced by the lighting coming from the stall. Giving rise to activities that provide for the creation of visual character of the area.
KONSEP WATERFRONT PADA PERMUKIMAN ETNIS KALI SEMARANG Ajeng Sarinastiti; R. Siti Rukayah; Titin Woro Murtini
TEKNIK Vol 36, No 2 (2015)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2568.36 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v36i2.7023

Abstract

Kali Semarang sebagai sungai bersejarah di Semarang, dahulu memiliki fungsi transportasi yang membelah perekonomian dan pertahanan kota. Bermacam etnis pedagang tinggal di sekitarnya hingga daerah tersebut menjadi permukiman etnis. Contohnya Kampung Melayu, etnis Tionghoa pada Kampung Pecinan, etnis Arab pada Kampung Kauman, serta Kampung Sekayu. Dan juga Kawasan Kota Lama sebagai daerah bersejarah dalam masa pemerintahan Kota Semarang. Kali Semarang memberi pengaruh fungsi waterfront pada permukiman tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep waterfront pada permukiman etnis Kali Semarang, yaitu Kampung Melayu, Kawasan Kota Lama, Kampung Pecinan, Kampung Kauman, dan Kampung Melayu. Diperlukan eksplorasi dan deskripsi keadaan yang mendalam untuk mengidentifikasikan informasi baru pada lokasi penelitian dengan konsep atau teori yang menjelaskan fenomena yang akan terjadi. Metode kualitatif rasionalistik digunakan dengan landasan teori mengenai waterfront dan permukiman etnis disertai dengan pengumpulan data melalui studi literatur dari berbagai sumber, observasi lapangan langsung, dan pertanyaan mendalam kepada key person. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya Kampung Melayu dan Kawasan Kota Lama yang pada awal mulanya menggunakan konsep waterfront karena lokasinya merupakan kawasan pelabuhan, pergudangan, dan perdagangan. Kampung Pecinan sebagai kawasan perdagangan, serta Kampung Kauman dan Kampung Sekayu sebagai permukiman tidak menggunakan konsep waterfront.[Title: Waterfront Concept on Ethnic Settlement in Kali Semarang] Kali Semarang, as a historical river in Semarang, has function as transportation to support the economy and city. Many ethnic traders settled around, so that area becomes ethnic settlement, such as Kampung Melayu, Chinese ethnic in Kampung Pecinan, Arabian ethnic in Kampung Kauman, and Kampung Sekayu, and Kota Lama areas as historical area in Semarang’s government era. The Kali Semarang giving influence of the waterfront function of those area. This paper purposes to understand waterfront concept of ethnicity settlement around Kali Semarang, such as: Kampung Melayu, Kawasan Kota Lama, Kampung Pecinan, Kampung Kauman, and Kampung Melayu. Exploration and deeper situations description are needed to identify new informations in respected location completed with concept or theories that explain the phenomenon. The qualitative rationalistic method is used for explaining theoritical basis regarding waterfront and ethnical settelement by data collecting through literature study, field observation, and key person question. The result of this research shows that Kampung Melayu and Kota Lama are pioneer to use the waterfront concept because of it location constitute as sea port area, warehouse, and commerce. Kampung Pecinan as a commerce area, Kampung Kauman and Kampung Sekayu, as settlement, did not use the waterfront concept.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP ALUN-ALUN KOTA BANDUNG SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK Heru Wibowo; R. Siti Rukayah; Atiek Suprapti
TEKNIK Vol 36, No 1 (2015)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.505 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v36i1.7268

Abstract

Bandung merupakan sebuah kota yang strategis yang memiliki nilai sejarah yang cukup panjang dalam masa perjuangan. Alun alun Bandung merupakan hasil warisan ciri kota tradisional yang dibangun oleh penguasa kolonial yang merupakan pusat ruang terbuka kota. Dari masa kemasa Alun-alun kota Bandung telah mengalami beberapa kali perubahan, baik bentuk maupun fungsinya sehingga mengakibatkan degradasi makna terhadap fungsinya bagi masyarakat Kota Bandung itu sendiri. Maka fenomena tersebut mengarahkan kepada pertanyaan penelitian yaitu bagaimana persepsi masyarakat terhadap Alun-alun Kota Bandung ditinjau sebagai ruang terbuka publik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap Alun-alun Kota Bandung. Dari tujuan tersebut maka sasaran yang dilakukan adalah mengidentifikasi karakter dan fungsi ruang terbuka publik yaitu fungsi ekologis, arsitektural, dan sosial. Dari hasil analisis dengan menggunakan kuesioner yaitu uji sampel dengan regresi linear sederhana dengan pendekatan analisis pengguna dan analisis karakteristik ruang terbuka publik. Hasil penelitian ini menghasilkan penilaian baik terhadap korelasi variabel bebas yaitu persepsi masyarakat terhadap variabel terikat yaitu Alun-alun Kota Bandung, setiap kali pertanyaan yang berkenaan dengan Persepsi masyarakat terhadap Alun-alun Kota Bandung akan mempengaruhi nilai hasil pengujian yang cenderung meningkat akan keberadaan Alun-alun itu sendiri. Hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan untuk mengangkat kembali citra Alun-alun Kota Bandung sebagai ruang publik atau (Central Square).[Public Perception of The Alun-alun Bandung as Public Open Space] Bandung is a city that has a value that strategic long history in the struggle. Alun Bandung square is the result of inherited traits of traditional town built by the colonial rulers which is the center of the city open space. Over time, Bandung town square has undergone several changes, both form and function, resulting in degradation of the meaning of the function for the city of London itself. The phenomenon then leads to the research question is how the public perception of the square is the city of Bandung reviewed as public open space for the present study tries to analyze the function of the existence of Bandung City Square as a public space. The purpose of this study was to determine the public perception of the square is the city of Bandung. From these objectives, the target does is identify the character and function of public open space that is the function of ecological, architectural and social. From the analysis by using a questionnaire that test samples with a simple linear regression analysis approach and analysis of the characteristics of users of public open space. The results of this study resulted in better assessment of the correlation of the independent variable is the public perception of the dependent variable is the town square of Bandung, every time queries regarding the public's perception of the town square Bandung will affect the value of the test results are likely to increase in the existence Square itself. the results of this study can be used to lift the image of Bandung city square as a public space or (Central Square).