Abstrak: Pembelajaran Bahasa Inggris vokasional pada jurusan Kuliner masih memerlukan bahan ajar yang lebih kontekstual karena buku teks umum belum sepenuhnya mengakomodasi kosakata, dialog, dan aktivitas komunikasi sesuai kebutuhan bidang keahlian. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi dua guru Bahasa Inggris sebagai mitra sasaran dalam menyusun buku teks English for Specific Purposes (ESP) untuk kelas X Kuliner; guru produktif yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Program Keahlian Kuliner dilibatkan sebagai kolaborator substansi, bukan sebagai sasaran pendampingan. Program menggunakan metode pemberdayaan partisipatif melalui sosialisasi, focus group discussion (FGD), pelatihan, dan pendampingan praktik terbimbing. Evaluasi peningkatan kompetensi dilakukan menggunakan angket retrospective pretest–posttest yang memuat delapan indikator dengan skala 1–5 dan diisi oleh dua guru Bahasa Inggris setelah rangkaian pendampingan selesai. Hasil angket menunjukkan bahwa kompetensi ML meningkat dari 19/40 (47,5%) menjadi 35/40 (87,5%), atau sebesar 40,0 poin persentase, sedangkan WY meningkat dari 21/40 (52,5%) menjadi 35/40 (87,5%), atau sebesar 35,0 poin persentase; secara rata-rata kompetensi mitra meningkat dari 50,0% menjadi 87,5% (+37,5 poin persentase). Pendampingan juga menghasilkan lima bab buku teks ESP dengan capaian kelengkapan produk 100%, sedangkan evaluasi awal implementasi terbatas pada siswa menunjukkan peningkatan rata-rata 26,3 poin persentase dari 59,5% menjadi 85,8%.Abstract: Vocational English learning in Culinary Arts still requires more contextual teaching materials because general textbooks do not fully accommodate vocabulary, dialogues, and communication activities relevant to the field. This community service program aimed to strengthen the competence of two English teachers as the target partners in developing an English for Specific Purposes (ESP) textbook for Grade X Culinary Arts; a Culinary Arts vocational teacher who also serves as Head of the Culinary Arts Program was involved as a vocational-content collaborator rather than as a mentoring target. The program employed participatory empowerment through socialization, focus group discussion (FGD), training, and guided mentoring. Competence gains were evaluated using an eight-indicator retrospective pretest–posttest questionnaire on a 1–5 scale completed by the two English teachers after the mentoring program. The questionnaire results showed that ML increased from 19/40 (47.5%) to 35/40 (87.5%), a gain of 40.0 percentage points, while WY increased from 21/40 (52.5%) to 35/40 (87.5%), a gain of 35.0 percentage points; on average, partner competence increased from 50.0% to 87.5% (+37.5 percentage points). The program also produced five ESP textbook chapters with 100% product-completeness achievement, while the preliminary limited-implementation evaluation among students showed an average increase of 26.3 percentage points from 59.5% to 85.8%.