Abstrak: Tata kelola aset yang bergantung pada pencatatan manual pada divisi Layanan Komputer dan Alat (LKA) PT Kwarsa Hexagon, sebuah perusahaan jasa konsultan yang berlokasi di Bandung, memicu tingginya risiko galat data (human error) serta hilangnya visibilitas inventaris. Mitra sasaran kegiatan ini adalah empat orang staf pengelola divisi LKA selaku pengguna akhir sistem. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan hard skill staf mitra dalam mengoperasikan Sistem Informasi Manajemen Aset berbasis web, sekaligus menumbuhkan soft skill berupa kemandirian dan budaya kerja digital dalam mengelola administrasi aset. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu pra-kegiatan berupa penggalian dan validasi kebutuhan, pelaksanaan berupa pembangunan sistem dengan pendekatan hybrid (prototyping dan waterfall) yang dilanjutkan sosialisasi serta pendampingan simulasi langsung, dan evaluasi. Keberhasilan program sengaja tidak mengandalkan kuesioner atau uji statistik, melainkan diukur secara empiris melalui pemantauan rekam jejak (log) aktivitas basis data pasca-pelatihan selama tiga bulan operasional harian. Hasil pemantauan membuktikan tingkat adopsi sistem yang tinggi: tanpa intervensi teknis lanjutan, staf LKA berhasil mendigitalisasi 145 entri aset baru ke dalam sistem, dan keberlanjutan operasional divalidasi oleh 657 log pembaruan status inventaris. Peningkatan aktivitas digital ini mengonfirmasi lompatan keterampilan staf LKA dalam beralih dari budaya kerja manual menuju ekosistem pengarsipan yang efisien, transparan, dan real-time.Abstract: Asset management relying on manual recording at the Computer and Equipment Services (LKA) division of PT Kwarsa Hexagon, a consulting firm located in Bandung, triggers data entry errors and obscures inventory visibility. The target partners of this activity are four management staff of the LKA division as end-users of the system. This community service program aims to enhance the partner staff's hard skills in operating a web-based Asset Management Information System, while cultivating soft skills in the form of independence and a digital work culture in managing asset administration. The program was carried out in three stages: pre-activity requirement elicitation and validation, implementation involving system development with a hybrid approach (prototyping and waterfall) followed by socialization and hands-on simulation mentoring, and evaluation. Rather than relying on questionnaires or statistical tests, program success was evaluated empirically by analyzing database activity logs over three months of post-training daily operations. The results revealed a high system adoption rate: without continuous technical intervention, the LKA staff successfully digitized 145 new asset entries, while operational sustainability was validated by 657 status update logs. These empirical metrics confirm a significant leap in the staff's technical proficiency, shifting from paper-dependent routines toward an efficient, transparent, and real-time archiving ecosystem.