Saeful Rohman
International Open University, Gambia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sarcasm in Digital Discourse: Representation of Public Distrust of Political Institutions on Patinews Facebook Account Lukman Alfaris; Nova Khairul Anam; Saeful Rohman; Leli Triana
Jurnal Sastra Indonesia Vol. 15 No. 2 (2026): July
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jsi.v15i2.49962

Abstract

Social media has evolved into a digital public space where people can express opinions, criticism, and dissatisfaction about various political issues. One widely used form of expression is sarcasm, namely the use of sharp, demeaning language to criticize individuals and institutions. This study aims to describe the forms of sarcasm and reveal the representation of public distrust of political institutions in netizen comments on the Patinews Facebook account. The study used a qualitative approach, employing digital discourse analysis and Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis framework. The research data consisted of netizen comments on the Patinews post entitled "The DPRD, Kemanakah Disaat Rakyat Membutuhanmu?" published on August 12, 2025. Of the 1,607 available comments, 16 that contained elements of sarcasm were selected using purposive sampling. The results showed that sarcasm was represented in four main forms: negative labeling, distrust, calls for rejection, and comparative satire. The most dominant form is negative labeling, characterized by expressions such as "dagelan," "mafia," "small change," and "party officials" used to describe political institutions. Research findings indicate that sarcasm not only functions as a linguistic strategy to convey criticism, but also represents disappointment, a legitimacy crisis, and declining public trust in political institutions. Furthermore, sarcasm has evolved into a form of symbolic resistance used by society to oppose political practices deemed unfavorable to the people. This research contributes to the study of digital linguistics and discourse by demonstrating that sarcasm is a discursive practice closely related to power relations and democratic dynamics in the digital public sphere.
Penafsiran Ayat-Ayat tentang Laknat dalam al-Qur’an (Studi Komparasi Tafsir Ibn Kasir dan Tafsir Ibn as-Si’di) Agus; Saeful Rohman
Jurnal Greenation Sosial dan Politik Vol. 2 No. 1 (2024): (JGSP) Jurnal Greenation Sosial dan Politik (Februari - April 2024)
Publisher : Greenation Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jgsp.v2i1.206

Abstract

Tujuan dari penelitian ini antara lain;  Mengetahui bagaimana penafsiran Ibn Kasir terhadap ayat-ayat laknat dalam al-Qur’an. Mengetahui bagaimana penafsiran Ibn Na?ir as-Si’di terhadap ayat-ayat laknat dalam al-Qur’?n. Menganalisis adanya persamaan dan perbedaan penafsiran antara Ibn Kasir dan Ibn Na?ir as-Si’di terhadap ayat-ayat laknat dalam al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian kepustakaan, dengan komparasi penafsiran Ibn Kasirr dan Ibn Na?ir as-Si’di terhadap ayat-ayat tentang laknat dalam al-Qur’an. Setelah menganalisis kata laknat dalam Tafsir Ibn Kasir dan Tafsir Ibn Na?ir As-si'di, dapat disimpulkan bahwa; Laknat didefiniskan dengan makna menjauhkan, menghalangi/mengusir dari setiap kebaikan dan rahmat Allah Ta’ala. Objek laknat di antaranya; Iblis, yahudi, orang kafir dan munafik, orang yang murtad, pelaku keruskaan di muka Bumi, orang yang membunuh mukmin dengan sengaja, pohon Zaqqum. Di antara persamaan kedua ahli tafsir sepakat bahwa ayat-ayat laknat bertujuan untuk memberikan peringatan tegas kepada manusia agar menjauhi dosa besar, seperti kekufuran, kemunafikan, kedustaan. Kedua ahli tafsir menekankan bahwa laknat adalah konsekuensi dari pebuatan yang melanggar hukum Allah Ta’ala, dan bertujuan untuk menunjukkan keadilan Allah Ta’ala dalam menghukum pelaku dosa. Adapun perbedaannya Ibn Kasirr lebih menekankan penafsiran dengan pendekatan tekstual dengan dalil-dali dari Al-Qur’an, hadis dan pendapat ahli tafsir yang lainnya, sedangkan Ibn Na?ir As-si'di lebih mengarah pada penafsiran yang ringkas dan aplikatif serta kontekstual, lebih menekankan nilai-nilai pendidikan dan pensucian jiwa.