Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pengetahuan indigenous, nilai-nilai pesantren, dan sosok kyai dalam melestarikan budaya serta memberikan layanan bimbingan dan konseling di tengah dinamika perubahan sosial akibat modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam kepada seorang ustadz yang telah menetap selama 35 tahun di wilayah Rangkasbitung Banten, serta memahami seluk-beluk budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan indigenous atau kearifan lokal merupakan sistem nilai, pengetahuan, dan praktik yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, bersifat dinamis dan adaptif, sehingga mampu bertahan meski wujud fisik dan gaya hidup telah terpengaruh kemajuan zaman. Prinsip budaya seperti pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi landasan multikulturalisme dalam menjaga kerukunan dan komunikasi antarbudaya. Dalam konteks bimbingan dan konseling, pendekatan indigenous yang diterapkan mengutamakan empati, pemahaman konteks budaya, serta integrasi nilai agama dan kearifan lokal, yang menjadikan proses bantuan lebih relevan, bermakna, dan mudah diterima oleh masyarakat. Lebih lanjut, peran pesantren dan sosok kyai sangat strategis sebagai penjaga nilai, penyeimbang dampak modernisasi, serta pusat pembentukan karakter dengan nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan toleransi. Artikel ini menyimpulkan bahwa sinergi antara pengetahuan indigenous, nilai pesantren, dan kepemimpinan kyai menjadi kekuatan utama dalam menjaga identitas budaya, menyelesaikan masalah sosial, serta melestarikan nilai luhur di tengah arus modernisasi dan pengaruh budaya asing.