Abrasi pantai yang berulang di Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara dengan pengikisan garis pantai mencapai 21 meter pada September 2025 mengindikasikan urgensi kajian hidrodinamika pesisir yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola elevasi arus pasang surut dan distribusi Suspended Sediment Concentration (SSC) sebagai dasar ilmiah mitigasi abrasi dan perencanaan pesisir berkelanjutan. Kerangka teoretis penelitian dibangun di atas teori hidrodinamika dua dimensi berbasis persamaan Navier-Stokes dengan pendekatan depth-averaging, yang dikombinasikan dengan konsep tegangan geser dasar (bed shear stress) sebagai mekanisme penggerak resuspensi sedimen di lingkungan estuari dan perairan terbuka. Penelitian menggunakan metode pemodelan numerik dengan perangkat lunak MIKE 21 Flow Model FM berbasis Flexible Mesh. Data diperoleh melalui survei lapangan selama 30 hari pada bulan Maret 2026, analisis granulometri sedimen di laboratorium, serta data sekunder berupa batimetri dan pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan data angin dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF). Validasi model menghasilkan nilai RMSE sebesar 0,088 (9%), yang mengindikasikan tingkat akurasi simulasi yang tinggi. Hasil pemodelan menunjukkan elevasi muka air berkisar antara ?0,79 hingga 0,87 m, kecepatan arus 0,03 sampai 1,5 m/s, dan nilai SSC antara 0,2–300 g/m³. Konsentrasi sedimen tersuspensi paling intensif terjadi pada fase surut terendah, dipicu oleh peningkatan bed shear stress yang mendorong resuspensi dan transpor sedimen ke arah laut. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika surut merupakan faktor dominan dalam proses erosi pesisir di Kecamatan Sawa dan dapat menjadi rujukan strategis bagi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir