Komunikasi interpersonal memainkan peran strategis dalam pendidikan, karena tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi pembelajaran tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk sikap, perilaku, dan keterampilan sosial siswa melalui interaksi berkelanjutan. Observasi lapangan menunjukkan beberapa tanda perkembangan sosial yang kurang optimal di kalangan siswa, termasuk bolos sekolah, meninggalkan kelas selama pelajaran, tidur di kelas, dan mengejek teman sebaya. Perilaku-perilaku ini menunjukkan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap pola komunikasi yang terjalin antara guru dan siswa dalam lingkungan madrasah. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memberikan gambaran mendalam tentang praktik komunikasi interpersonal. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan guru dan siswa sebagai partisipan penelitian. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman komprehensif tentang temuan penelitian. Kerangka teoritis didasarkan pada teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead, yang menekankan makna dalam interaksi sosial, serta konsep komunikasi interpersonal Joseph A. Devito, yang meliputi keterbukaan, empati, dukungan, dan sikap positif. Temuan menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif antara guru dan siswa memainkan peran penting dalam mendorong perkembangan sosial anak. Guru yang menunjukkan komunikasi yang terbuka, empatik, dan suportif cenderung membangun hubungan yang harmonis dengan siswa, sehingga mendorong kepercayaan diri, keterampilan interaksi, dan saling menghormati. Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif dapat menghambat perkembangan sosial siswa. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal antara guru dan siswa sangat penting untuk mendukung perkembangan sosial anak secara optimal.