Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari individu kepada individu lainnya dengan tujuan membangun pemahaman dan memengaruhi perilaku. Dalam konteks masyarakat multikultural, komunikasi memiliki peran penting sebagai jembatan interaksi sosial yang dipengaruhi oleh nilai, norma, serta kebiasaan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan komunikasi lintas budaya antara Suku Jawa dan Suku Komering di Desa Tanjung Kukuh, Kecamatan Semendawai Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Desa ini merupakan wilayah heterogen dengan jumlah penduduk 3.147 jiwa pada tahun 2024 yang terdiri dari beragam latar belakang etnis dan budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan berdasarkan teori Anxiety/Uncertainty Management (Gudykunst, 1998) dan konsep High Context–Low Context Communication (Hall, 2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan komunikasi di Desa Tanjung Kukuh meliputi perbedaan bahasa dan dialek, gaya komunikasi, serta persepsi terhadap sopan santun dan ekspresi emosional. Selain itu, faktor psikologis seperti prasangka dan stereotip turut memperlemah efektivitas interaksi antarwarga. Fenomena sosial seperti sistem budaya yang tertutup, ritual tradisional, serta kuatnya identitas kultural masyarakat turut memperkuat jarak komunikasi antara kelompok penduduk asli dan pendatang. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi lintas budaya memerlukan pemahaman terhadap dimensi budaya lokal, kesadaran interkultural, dan adaptasi simbolik dalam proses interaksi sosial. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah desa dan pihak terkait dalam merancang strategi komunikasi yang lebih inklusif guna memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat pedesaan.