Meningkatnya paparan konten pornografi pada anak-anak sekolah dasar melalui media digital telah menjadi isu kritis yang membutuhkan intervensi berbasis komunitas secara segera. Penelitian ini mengeksplorasi peran Perpustakaan Umum Rajeg, yang berlokasi di Kabupaten Tangerang, Indonesia, sebagai ruang edukatif yang aman untuk membantu memitigasi risiko paparan pornografi pada anak usia 6 hingga 12 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana perpustakaan komunitas dapat berfungsi sebagai agen perlindungan dan literasi di era digital. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala desa, kepala perpustakaan, dan anak-anak yang menjadi pengunjung rutin perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan berfungsi tidak hanya sebagai pusat membaca, tetapi juga sebagai tempat aman untuk literasi digital dan pengembangan karakter. Anak-anak menunjukkan peningkatan kebiasaan membaca, penurunan waktu layar, serta kesadaran yang lebih tinggi terhadap keamanan konten berani. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, relawan, pendidik, dan orang tua dalam membangun ekosistem literasi digital yang berkelanjutan dan ramah anak. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan komunitas perpustakaan sebagai pusat literasi digital dapat menjadi strategi praktis untuk melindungi anak dari paparan konten berani yang berbahaya. Model ini berpotensi direplikasi di daerah lain sebagai bagian dari kerangka kebijakan perlindungan anak dan pendidikan yang lebih luas.