Yuniar Galuh Larasati
Universitas Gadjah Mada, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

K-Pop Fandom Activism on Social Media: Refuting Accusations of Slacktivism in Internet Activism Putri Ananda Saka; Zidan Abdul Jabar Saka; Putri Rahmah Nurhakim; Mirna Yusuf; Yuniar Galuh Larasati; Rabiatul Adawiah
Fenomena Vol 23 No 2 (2024): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v23i2.191

Abstract

The phenomenon of K-Pop fandom activism, which has been considered as a mere fanaticism movement, has experienced a developmental orientation towards the fulfillment of common interests. K-Pop fandom activism is able to become a movement in social media that has an impact and brings public attention in voicing social changes. This paper focuses on analyzing the trends, forms, and real implications of social movements initiated by K-Pop fandoms with a high number of masses and militants. Using qualitative research utilizing online sources, this study found that K-Pop fandom activism has enlivened issues that are not only related to their community but have referred to global issues such as social, cultural, environmental and political. This activism is able to become a catalyst on social media in the form of real action rather than slacktivism. Real action is carried out by giving donations, filling out petitions to make demonstration efforts. This activism phenomenon has implications for changes not only in the issues raised but also has implications for changes in the stigma of society towards K-Pop fandom which tends to be more positive as a driver of social change. However, this paper is limited to the use of text data as the main source which cannot provide empirical conclusions. Therefore, future research should integrate the views and experiences of those directly involved in K-Pop fandom activism so that it is possible to formulate more comprehensive conclusions. Fenomena aktivisme fandom K-Pop yang selama ini dianggap sebagai gerakan fanatisme belaka ternyata telah mengalami perkembangan orientasi atas pemenuhan kepentingan bersama. Aktivisme fandom K-Pop mampu menjadi gerakan dalam media sosial yang berdampak dan membawa atensi publik dalam menyuarakan perubahan-perubahan sosial. Tulisan ini fokus menganalisis tren, bentuk, dan implikasi nyata dari gerakan sosial yang diinisiasi oleh fandom K-Pop dengan jumlah massa yang cukup tinggi dan militan. Menggunakan penelitian kualitatif dengan memanfaatkan sumber-sumber online, penelitian ini menemukan bahwa aktivisme fandom K-Pop sudah meramaikan isu-isu yang bukan hanya terkait komunitas mereka saja melainkan sudah merujuk pada isu-isu global seperti sosial, kultural, lingkungan hingga politik. Aktivisme ini mampu menjadi katalis di media sosial berupa aksi nyata bukan sebagai slacktivisme. Aksi nyata yang dilakukan dengan pemberian donasi, mengisi petisi hingga melakukan upaya demonstrasi. Fenomena aktivisme ini berimplikasi pada perubahan tidak hanya pada isu yang diangkat melainkan juga berimplikasi pada perubahan stigma masyarakat terhadap fandom K-Pop yang cendrung lebih positif sebagai penggerak perubahan sosial. Akan tetapi, tulisan ini terbatas pada penggunaan data teks yang menjadi sumber utama yang tidak dapat memberikan kesimpulan empiris. Oleh karena itu, penelitian masa depan harus mengintegrasikan pandangan dan pengalaman pihak yang terlibat langsung dalam aktivisme fandom K-Pop sehingga memungkinkan untuk merumuskan kesimpulan yang lebih komprehensif.
Intercultural Communication in Improving the Competence of International Students on Instagram Julia Magdalena Wuysang; Ira Patriani; Henky Fernando; Yuniar Galuh Larasati; Julkarnaen; Leanne Morin
Fenomena Vol 24 No 1 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v24i1.229

Abstract

Intercultural communication disseminated on Instagram extends beyond visual content, encompassing culturally rich symbols that convey deep meanings. Despite its significance, this phenomenon has received limited scholarly attention. This study addresses this gap by examining intercultural communication practices on Instagram, focusing on language, culinary traditions, and performing arts content. Adopting a qualitative descriptive approach, the research explores how cultural elements are shared and represented through social media. The findings identify three primary contexts: (1) the use of native languages to introduce linguistic and cultural diversity; (2) the dissemination of traditional culinary content to reinforce cultural identity; and (3) the learning and sharing of traditional dance via Instagram as a strategy for preserving cultural heritage. These insights highlight Instagram’s role as an active, dynamic, and educational space for intercultural communication. Komunikasi antarbudaya yang tersebar melalui media sosial Instagram tidak hanya terbatas pada visualisasi konten, tetapi juga merepresentasikan simbol-simbol budaya yang sarat makna. Fenomena ini masih kurang mendapat perhatian dalam kajian ilmiah. Studi ini bertujuan mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis praktik komunikasi antarbudaya dalam Instagram yang berfokus pada konten bahasa, kuliner, dan seni pertunjukan. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan mengeksplorasi elemen-elemen budaya didiseminasikan melalui media sosial Instagram. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga konteks utama: (1) penggunaan bahasa asli oleh penutur asli untuk memperkenalkan keragaman linguistik dan budaya; (2) penyebaran konten kuliner tradisional sebagai media penguatan identitas budaya; dan (3) pembelajaran tarian tradisional melalui Instagram sebagai strategi pelestarian warisan budaya. Temuan ini menegaskan bahwa Instagram berfungsi sebagai ruang aktif untuk komunikasi antarbudaya yang dinamis dan edukatif.