M. Ishaq
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penentuan Awal Bulan Qamariyah: Studi Kasus di Pesantren Mahfilu al-Dzura Suger Jelbuk Jember: Determining the Beginning of the Qamariyah Month: A Case Study at Mahfilu al-Dzura Islamic Boarding School, Suger, Jelbuk, Jember M. Ishaq
Fenomena Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v4i1.360

Abstract

The determination of the lunar month’s start remains debated among Muslims due to differing interpretations of the evidence regarding hisab and ru’yah. This article examines the independent ijtihad practice of Pesantren Mahfiu al-Dzura in Jember, which differs from the methodologies of NU and Muhammadiyah. This study aims to describe and analyze the pesantren’s method for determining the start of Ramadan and Shawwal. Using a phenomenological approach and qualitative case study method, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings show that the pesantren employs the Hisab Urfi method, beginning with rubuk calculation, followed immediately by ikhbar (announcement) without further verification using hisab hakiki or consistent ru’yah bi al-fi’li. In conclusion, this method does not meet the methodological standards agreed upon by falak experts, as its results are invalid for mahdah worship, making the ikhbar unjustifiable. This study recommends the use of collective ijtihad (jam’i) and the application of hisab hakiki or ru’yah to achieve accuracy and public tranquility. Penentuan awal bulan qamariyah terus menjadi perdebatan di kalangan umat Islam karena perbedaan pemahaman terhadap dalil hisab dan ru’yah. Artikel ini mengkaji praktik ijtihad mandiri yang dilakukan oleh Pesantren Mahfiu al-Dzura di Jember yang berbeda dari metodologi NU maupun Muhammadiyah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis metode yang digunakan pesantren tersebut dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal. Dengan pendekatan fenomenologis dan metode kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren menggunakan metode Hisab Urfi yang diawali perhitungan rubuk, kemudian langsung melakukan ikhbar (pemberitahuan) tanpa ditindaklanjuti dengan hisab hakiki maupun ru’yah bi al-fi’li secara konsisten. Kesimpulannya, metode ini tidak memenuhi standar metodologis yang disepakati para ahli falak karena hasilnya belum valid untuk dasar ibadah mahdah, sehingga ikhbar yang dilakukan tidak dibenarkan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya ijtihad jam’i (kolektif) dan penggunaan hisab hakiki atau ru’yah untuk mencapai akurasi dan ketenangan umat.
Poligami di Kalangan Kiai Situbondo: Perspektif Gender: Polygamy Among Kiai in Situbondo: A Gender Perspective M. Ishaq
Fenomena Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i1.439

Abstract

Polygamy among kyai in Situbondo is a controversial and persistently debated phenomenon because it often creates gender injustice in family relations, yet studies on this topic remain limited to reports and polls. This research aims to describe the practice of polygamy and the debated aspects among Situbondo's kyai from a gender perspective. Using a qualitative approach with in-depth interviews, observation, and documentation analyzed holistically, the study finds that the textualist interpretation by conservative-traditionalist kyai tends to be discriminatory and legitimizes polygamy without substantive justice requirements. Polygamy is mostly practiced secretly (sirri) without the first wife's consent, leading to psychological violence, subordination, isolation, and neglect of wives' rights. The study concludes that polygamy among Situbondo's kyai indicates unequal power relations rooted in gender-biased religious interpretations, thus necessitating a contextual and emancipatory reinterpretation of polygamy texts. Poligami di kalangan kyai di Situbondo merupakan fenomena kontroversial yang terus diperdebatkan karena seringkali menimbulkan ketidakadilan gender dalam relasi keluarga, meskipun kajian tentangnya masih terbatas pada laporan dan polling. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik poligami serta aspek-aspek yang diperdebatkan di kalangan kyai Situbondo dari perspektif gender. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi yang dianalisis secara holistik, penelitian ini menemukan bahwa penafsiran tekstualis oleh kelompok kyai konservatif-tradisionalis cenderung diskriminatif dan melegitimasi poligami tanpa syarat keadilan yang substansial. Praktik poligami sebagai besar dilakukan secara sirri tanpa izin istri pertama, yang memicu kekerasan psikis, subordinasi, isolasi, dan pengabaian hak-hak istri. Kesimpulannya, praktik poligami di kalangan kyai Situbondo mengindikasikan adanya ketimpangan relasi kuasa yang berakar pada penafsiran keagamaan yang bias gender, sehingga diperlukan reinterpretasi kontekstual dan emansipatoris terhadap teks-teks poligami.