Polygamy among kyai in Situbondo is a controversial and persistently debated phenomenon because it often creates gender injustice in family relations, yet studies on this topic remain limited to reports and polls. This research aims to describe the practice of polygamy and the debated aspects among Situbondo's kyai from a gender perspective. Using a qualitative approach with in-depth interviews, observation, and documentation analyzed holistically, the study finds that the textualist interpretation by conservative-traditionalist kyai tends to be discriminatory and legitimizes polygamy without substantive justice requirements. Polygamy is mostly practiced secretly (sirri) without the first wife's consent, leading to psychological violence, subordination, isolation, and neglect of wives' rights. The study concludes that polygamy among Situbondo's kyai indicates unequal power relations rooted in gender-biased religious interpretations, thus necessitating a contextual and emancipatory reinterpretation of polygamy texts. Poligami di kalangan kyai di Situbondo merupakan fenomena kontroversial yang terus diperdebatkan karena seringkali menimbulkan ketidakadilan gender dalam relasi keluarga, meskipun kajian tentangnya masih terbatas pada laporan dan polling. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik poligami serta aspek-aspek yang diperdebatkan di kalangan kyai Situbondo dari perspektif gender. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi yang dianalisis secara holistik, penelitian ini menemukan bahwa penafsiran tekstualis oleh kelompok kyai konservatif-tradisionalis cenderung diskriminatif dan melegitimasi poligami tanpa syarat keadilan yang substansial. Praktik poligami sebagai besar dilakukan secara sirri tanpa izin istri pertama, yang memicu kekerasan psikis, subordinasi, isolasi, dan pengabaian hak-hak istri. Kesimpulannya, praktik poligami di kalangan kyai Situbondo mengindikasikan adanya ketimpangan relasi kuasa yang berakar pada penafsiran keagamaan yang bias gender, sehingga diperlukan reinterpretasi kontekstual dan emansipatoris terhadap teks-teks poligami.