Fuadatul Huroniyah
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan antara Pola Asuh Islami dengan Kematangan Beragama pada Remaja dalam Budaya Masyarakat Jawa: The Relationship between Islamic Parenting and Religious Maturity among Adolescents in Javanese Society Fuadatul Huroniyah
Fenomena Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v5i1.384

Abstract

Contemporary advances in science and technology have led to social and cultural changes among adolescents, often distancing them from religious values, yet there is a paradoxical trend of religious deepening among youth. This study aimed to examine the correlation between Islamic parenting and religious maturation in Javanese adolescents. A quantitative approach was employed, using purposive random sampling of 184 students from MAN 1 Yogyakarta, aged 15-18 years. Data were collected using Islamic parenting and religious maturation scales and analyzed using regression analysis. The results revealed a significant positive correlation between Islamic parenting and religious maturation (r = 0.743, p = 0.000), with an effective contribution of 55.30%. This indicates that Islamic parenting based on the Qur'an and Hadith serves as a strong predictor of religious maturation among Javanese adolescents. The study concludes that parents should consistently apply Islamic parenting principles while preserving local cultural values to foster religious maturity in their children. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini memunculkan perubahan sosial dan budaya di kalangan remaja yang cenderung menjauhkan mereka dari nilai-nilai agama, namun di sisi lain terjadi peningkatan semangat pendalaman ajaran agama di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara pola asuh Islami dengan kematangan beragama pada remaja Jawa. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan purposive random sampling terhadap 184 siswa MAN 1 Yogyakarta berusia 15-18 tahun. Data dikumpulkan melalui skala pola asuh Islami dan skala kematangan beragama, kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pola asuh Islami dengan kematangan beragama (r = 0,743, p = 0,000) dengan sumbangan efektif sebesar 55,30%. Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh Islami yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis merupakan prediktor kuat terhadap kematangan beragama remaja Jawa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa orang tua hendaknya konsisten menerapkan pola asuh Islami sembari tetap mewariskan nilai-nilai budaya lokal untuk membina kematangan beragama anak.
Hubungan antara Pola Kepemimpinan Kyai dengan Perilaku Asertif Santri: The Relationship Between Kyai’s Leadership Patterns and Students’ Assertive Behavior Fuadatul Huroniyah
Fenomena Vol 6 No 1 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v6i1.398

Abstract

The passive obedience of santri to kyai in Indonesian pesantren often hinders their critical thinking and assertiveness, raising concerns about the development of their cognitive and social skills. Drawing on Bass and Avolio’s transformational and transactional leadership theories and Rathus and Nevis’s assertiveness theory, this study examines the relationship between kyai leadership patterns and santri assertive behavior in modern and salaf pesantren. A quantitative approach was used, employing validated scales with 410 santri from Pondok Pesantren Nurul Islam (modern) and Al-Inaroh (salaf) in East Java. Data were analyzed using linear regression. Results showed a significant positive relationship between transformational leadership and assertive behavior in modern pesantren (r=0.272, p<0.05), but no significant relationship for transactional leadership in modern pesantren or for either leadership style in salaf pesantren. It is concluded that transformational leadership enhances santri assertiveness only in modern pesantren contexts. Future research should extend to other educational institutions and include additional relevant variables. Kepatuhan pasif santri kepada kyai di pesantren Indonesia sering menghambat kemampuan berpikir kritis dan perilaku asertif mereka, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang perkembangan kognitif dan sosial. Berdasarkan teori kepemimpinan transformasional dan transaksional dari Bass dan Avolio serta teori asertif dari Rathus dan Nevis, penelitian ini bertujuan menguji hubungan pola kepemimpinan kyai dengan perilaku asertif santri di pesantren modern dan salaf. Metode kuantitatif digunakan dengan skala teruji pada 410 santri dari Pondok Pesantren Nurul Islam (modern) dan Al-Inaroh (salaf) di Jawa Timur. Data dianalisis dengan regresi linear. Hasil menunjukkan hubungan positif signifikan antara kepemimpinan transformasional dan perilaku asertif di pesantren modern (r=0,272, p<0,05), namun tidak ada hubungan signifikan untuk kepemimpinan transaksional di pesantren modern maupun kedua gaya kepemimpinan di pesantren salaf. Kesimpulannya, kepemimpinan transformasional meningkatkan asertivitas santri hanya dalam konteks pesantren modern. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan institusi pendidikan lain dan variabel tambahan.
Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Soft Skill Siswa: The Implementation of Islamic Religious Education in Developing Students’ Soft Skills Fuadatul Huroniyah
Fenomena Vol 8 No 1 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i1.446

Abstract

The urgency of holistic education that balances cognitive and affective outcomes remains a pressing issue in the globalization era, as schools often prioritize hard skills over character development. This study explores the underexplored role of Islamic religious education in fostering students' soft skills, including empathy, tolerance, teamwork, and emotional management. The research aims to examine teachers' perceptions, instructional methods, and challenges in implementing Islamic education to develop soft skills. Using an explorative-qualitative method, data were collected through observation, interviews, and documentation at MAN Jember I, then analyzed descriptively through data categorization and validity checks. The findings reveal that Islamic education teachers hold positive perceptions of soft skill development but face significant constraints, such as limited instructional time, cognitive-oriented curricula, and students' varied religious backgrounds. Common teaching methods remain confined to lectures and discussions, with insufficient field-based or experiential learning. The study concludes that soft skill integration through Islamic education remains suboptimal and recommends unifying teacher perceptions, extending instructional hours, and adopting outdoor methods like contemplative learning to observe social realities. Urgensi pendidikan holistik yang menyeimbangkan aspek kognitif dan afektif menjadi isu krusial di era globalisasi, di mana sekolah sering memprioritaskan hard skill dibanding pengembangan karakter. Penelitian ini mengeksplorasi peran pendidikan agama Islam yang belum banyak dikaji dalam membangun soft skill siswa, meliputi empati, toleransi, kerja sama tim, dan pengelolaan emosi. Tujuannya adalah untuk mengetahui persepsi guru, metode pengajaran, serta kendala implementasi pendidikan agama Islam dalam membangun soft skill siswa. Dengan metode kualitatif eksploratif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di MAN Jember I, lalu dianalisis secara deskriptif melalui penyusunan kategori dan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif terhadap pengembangan soft skill, namun menghadapi kendala signifikan seperti minimnya alokasi waktu pembelajaran, orientasi kurikulum yang kognitif, dan latar belakang siswa yang beragam. Metode yang digunakan masih terbatas pada ceramah dan diskusi, tanpa pengalaman belajar di lapangan. Kesimpulannya, implementasi pendidikan agama Islam dalam membangun soft skill siswa belum optimal. Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya penyatuan persepsi guru, penambahan jam pelajaran, serta penerapan metode luar kelas seperti tadabur alam.