Elce Purwandari
Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar Lubuklinggau, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Influence of Sandpaper Letter Media on Pre-Reading Skills in Children Aged 5-6 Epi Supriyani Siregar; Ika Purnama Sari; Estri Oktarena Ikrarini; Elce Purwandari; Ari Setiawan; Ambrosius Fernus Ndruru
Fenomena Vol 24 No 2 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v24i2.616

Abstract

Pre-reading skills are a crucial foundation for early childhood literacy development; however, conventional teaching methods often lack multisensory engagement, which limits their effectiveness. While previous studies have acknowledged the importance of sensory experiences, a gap remains in empirical evidence that quantitatively demonstrates the impact of specific tactile media, such as Sandpaper Letters, on pre-reading abilities in children aged 5-6 within localized educational contexts. This study aims to analyze the effect of Sandpaper Letter media on the pre-reading skills of children in this age group. Using a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design, the research involved 30 children from a kindergarten. The experimental group received learning interventions using Sandpaper Letters, while the control group used conventional methods. Data were collected through pre-reading skill tests and analyzed using normality tests (Kolmogorov-Smirnov) and an independent t-test. The results showed a significant improvement in the experimental group's letter recognition, phonemic awareness, and simple word formation skills, with a t-count of 1.934 exceeding the t-table of 1.729. The study concludes that Sandpaper Letter media is a practical, multisensory-based tool for significantly enhancing the pre-reading skills of children aged 5-6 years, offering a valuable strategy for early childhood educators. Keterampilan pra-membaca merupakan fondasi krusial bagi perkembangan literasi anak usia dini, namun metode pengajaran konvensional seringkali kurang melibatkan multisensori, sehingga membatasi efektivitasnya. Meskipun studi-studi terdahulu telah mengakui pentingnya pengalaman sensorik, masih terdapat kesenjangan bukti empiris yang secara kuantitatif mendemonstrasikan dampak media taktil spesifik, seperti Sandpaper Letter, terhadap kemampuan pra-membaca anak usia 5-6 tahun dalam konteks pendidikan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media Sandpaper Letter terhadap keterampilan pra-membaca anak pada kelompok usia tersebut. Dengan menggunakan metode kuasi-eksperimen dengan desain pretest-posttest control group, penelitian melibatkan 30 anak dari satu taman kanak-kanak. Kelompok eksperimen menerima intervensi pembelajaran menggunakan Sandpaper Letter, sementara kelompok kontrol menggunakan metode konvensional. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan pra-membaca dan dianalisis menggunakan uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov) dan uji-t independen. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kelompok eksperimen dalam hal pengenalan huruf, kesadaran fonemik, dan kemampuan menyusun kata sederhana, dengan nilai t-hitung 1,934 yang melebihi t-tabel 1,729. Studi ini menyimpulkan bahwa media Sandpaper Letter merupakan alat berbasis multisensori yang efektif untuk meningkatkan keterampilan pra-membaca anak usia 5-6 tahun secara signifikan, sehingga menawarkan strategi yang berharga bagi pendidik anak usia dini.
The effect of geoboard media on elementary students' learning outcomes in plane geometry Nur Shinta Kurnia; Elce Purwandari
Journal of Advanced Sciences and Mathematics Education Vol. 6 No. 4 (2026): Journal of Advanced Sciences and Mathematics Education
Publisher : CV. FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/jasme.v6i4.1519

Abstract

Background: Elementary students frequently encounter difficulties understanding abstract geometric concepts, particularly when instruction relies on verbal explanations and memorization. Concrete manipulatives, such as geoboards, offer opportunities to explore geometric properties through hands-on learning. Aims: This study aims to examine changes in second-grade students’ mathematics learning outcomes following geoboard-assisted instruction in plane geometry. Method: A quantitative pre-experimental study employing a one-group pretest–posttest design involved 17 second-grade students at MI Fathul Huda Singkut, Indonesia, selected through total sampling. Data were collected using achievement tests and analyzed through descriptive statistics and the Wilcoxon Signed-Rank Test. Results: The mean achievement score increased from 69.12 to 93.18, while learning mastery improved from 52.94% to 100%. The Wilcoxon test revealed a statistically significant pretest–posttest difference (Z = −2.925, p = 0.003), with a large effect size (r = 0.731). Conclusion: Geoboard-assisted instruction was associated with significant improvements in students’ mathematics achievement. However, the absence of a control group and limited sample size prevent causal conclusions, highlighting the need for further controlled investigations.
STRATEGI DAKWAH KELEMBAGAAN BAZNAS DALAM MEMBANGUN LITERASI ZAKAT DAN KEPERCAYAAN MUZAKI: BAZNAS’S INSTITUTIONAL DA’WAH STRATEGY FOR ENHANCING ZAKAT LITERACY AND BUILDING MUZAKI TRUST Rio Apandi; Sumaryati; Erwin Rochmansyah; Depi Putri; Elce Purwandari
HIKMAH : Jurnal Dakwah Dan Sosial Volume 6, No.2, Oktober 2026
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/hikmah.v6i2.11444

Abstract

Abstract. This study examines institutional da'wah strategies implemented by BAZNAS Lubuklinggau to develop zakat literacy and strengthen muzakki trust amid changing religious communication and zakat services. This issue is important because zakat institutionalization requires public awareness and credible relationships with communities preferring direct distribution. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and institutional documentation to explore strategies, supporting conditions, and implementation challenges. Findings reveal that zakat education, institutional transparency, and service accessibility are interconnected. BAZNAS combines conventional outreach through sermons, schools, and mosques with digital communication and online payments while maintaining personal collection services for muzakki facing digital barriers or preferring direct interaction. Collaboration with government agencies, educational institutions, mosques, companies, and community groups strengthens communication through existing social networks. Institutional trust is therefore pursued through integrated religious education, accountability, accessible services, and community engagement rather than messaging or technology alone. However, limited zakat literacy, direct distribution preferences, human-resource constraints, and unequal digital access remain challenges. This study contributes to institutional da'wah scholarship by highlighting the importance of integrating digital innovation, personal services, and community-based engagement. Abstrak. Penelitian ini mengkaji strategi dakwah kelembagaan yang diterapkan oleh BAZNAS Lubuklinggau untuk mengembangkan literasi zakat dan memperkuat kepercayaan muzakki di tengah perubahan komunikasi keagamaan dan layanan zakat. Permasalahan ini penting karena pelembagaan zakat membutuhkan kesadaran masyarakat sekaligus hubungan yang kredibel dengan masyarakat yang lebih memilih penyaluran zakat secara langsung. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kelembagaan untuk mengkaji strategi, faktor pendukung, dan tantangan pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi zakat, transparansi kelembagaan, dan aksesibilitas layanan saling berkaitan. BAZNAS memadukan dakwah konvensional melalui ceramah, sekolah, dan masjid dengan komunikasi digital serta pembayaran daring, sekaligus mempertahankan layanan pengumpulan zakat secara langsung bagi muzakki yang menghadapi kendala digital atau lebih memilih interaksi personal. Kolaborasi dengan instansi pemerintah, lembaga pendidikan, masjid, perusahaan, dan kelompok masyarakat memperkuat komunikasi melalui jaringan sosial yang telah ada. Kepercayaan kelembagaan dibangun melalui integrasi pendidikan keagamaan, akuntabilitas, layanan yang mudah diakses, dan keterlibatan masyarakat. Namun, rendahnya literasi zakat, preferensi penyaluran langsung, keterbatasan sumber daya manusia, dan kesenjangan akses digital masih menjadi tantangan. Penelitian ini berkontribusi pada kajian dakwah kelembagaan dengan menegaskan pentingnya integrasi inovasi digital, layanan personal, dan keterlibatan berbasis masyarakat.