Ruhut Parningotan Tambunan
Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala, Salatiga

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membina Moral Siswa dari Latar Belakang Keluarga Fatherless Ruhut Parningotan Tambunan; Theresa Dian Christi; Yonatan Alex Arifianto
GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies Vol. 6 No. 1 (2026): GRAFTA: Journal of Christian Religion Education and Biblical Studies - July 202
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/grafta.v6i1.117

Abstract

The increasing number of students from fatherless families affects students’ moral formation, character, and spiritual development. The absence of a father figure reduces role modeling, supervision, and guidance, thereby increasing vulnerability to identity crises, deviant behavior, and weak Christian moral development. Christian Religious Education teachers play a strategic role in fostering students’ morality through exemplary behavior, spiritual guidance, and restorative educational relationships. This study aims to analyze the role of Christian Religious Education teachers in holistically fostering the morality of students from fatherless families. The study employs a descriptive qualitative approach using literature review and content analysis of relevant scientific literature. The results indicate that teachers serve as moral guides, spiritual mentors, and role models of Christian character through pastoral guidance, reflective learning, and educational relationships that strengthen students’ identity, integrity, and moral resilience. This study proposes the Restorative Christian Moral Formation (RCMF) Model, which integrates relational acceptance, spiritual mentoring, biblical character formation, collaborative care, and transformative moral practice as a framework for restorative moral formation. This model contributes both conceptually and practically to strengthening the moral formation of students from fatherless families within the context of contemporary Christian Religious Education. Abstrak Meningkatnya jumlah siswa dari keluarga fatherless memengaruhi pembentukan moral, karakter, dan perkembangan spiritual peserta didik. Ketiadaan figur ayah mengurangi keteladanan, pengawasan, serta pendampingan sehingga meningkatkan kerentanan terhadap krisis identitas, perilaku menyimpang, dan lemahnya perkembangan moral Kristiani. Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis membina moral siswa melalui keteladanan, pendampingan spiritual, dan relasi edukatif yang restoratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam membina moral siswa berlatar belakang keluarga fatherless secara holistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan analisis isi terhadap berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai pembimbing moral, mentor spiritual, dan teladan karakter Kristiani melalui pendampingan pastoral, pembelajaran reflektif, serta relasi edukatif yang memperkuat identitas, integritas, dan ketahanan moral siswa. Penelitian menawarkan Model Restorative Christian Moral Formation (RCMF) yang mengintegrasikan relational acceptance, spiritual mentoring, biblical character formation, collaborative care, dan transformative moral practice sebagai kerangka pembinaan moral restoratif. Model ini berkontribusi secara konseptual dan praktis dalam memperkuat pembinaan moral siswa fatherless pada konteks Pendidikan Agama Kristen kontemporer.
PENDEKATAN PEDAGOGIK TRANSFORMATIF DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENGHADAPI TANTANGAN GENERASI DIGITAL ERA SOCIETY 5.0 Ruhut Parningotan Tambunan; Reni Triposa; Yonatan Alex Arifianto
Metanoia Vol 8 No 2 (2026): Metanoia Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i2.312

Abstract

Perkembangan teknologi digital dalam kerangka Society 5.0 telah membentuk pola pikir, cara belajar, di generasi digital ini. Sehingga pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan relevansi nilai kekristenan. Terlebih model pembelajaran PAK yang masih berfokus pada transmisi pengetahuan dan hafalan yang sering gagal menjawab kebutuhan eksistensial peserta didik yang hidup dalam budaya kontemporer ini, sehingga muncul jarak antara nilai iman dan realitas kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka untuk merumuskan pedagogi transformatif yang relevan bagi generasi digital. Hasil penelitian mejelaskan bahwa generasi digital menghadirkan pergeseran antropologi pembelajar yang menuntut pemahaman sosial, kultural, dan spiritual baru. Sementara itu, pedagogi transformatif menyediakan kerangka teologis dan edukatif berbasis refleksi kritis, dialog, dan pembentukan karakter. Dimana, integrasi teknologi sebagai ruang transformasi memperkaya pengalaman iman, sementara rekonstruksi praktik PAK di era Society 5.0 menjembatani dunia digital dan nilai Kristiani, menciptakan pendidikan yang kontekstual, relevan, dan transformatif bagi pembentukan identitas serta spiritualitas generasi masa kini.
Pendidikan Kristen Sebagai Fondasi Etis teologis dan Moral Pada Generasi Alpha Dalam Menghadapi Realitas Zaman Reni Triposa; Ruhut Parningotan Tambunan
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.552

Abstract

The development of digital technology significantly shapes the living environment of Generation Alpha from an early age. Unlimited access to information poses moral, character, and spiritual challenges for the contemporary Generation Alpha. Christian education is necessary to build integrity, responsibility, ethical discernment, and sustainable Christian character. The phenomenon of digital culture reinforces moral relativism, the pursuit of social validation, consumerism, and a weakening of spiritual discipline. This study aims to analyze Christian education as the moral foundation for Generation Alpha in facing the realities of the times. The study employs a qualitative phenomenological approach using thematic analysis, phenomenological interpretation, and reflective theological synthesis. The results show that Christian education strengthens Generation Alpha’s faith identity, character, and ethical responsibility. Digital literacy, spirituality, and the exemplary conduct of educators bolster moral resilience in the face of contemporary cultural changes. This study proposes the Christian Transformative Moral Formation Model for the moral formation of Generation Alpha in a digital context. The model integrates Biblical Formation, Christlike Character, Digital Ethical Discernment, and Transformative Christian Living. Christian education contributes to building sustainable moral steadfastness, spirituality, and digital literacy among Generation Alpha. Further research is recommended to test the model’s effectiveness through field studies and ongoing empirical approaches.AbstrakPerkembangan teknologi digital membentuk lingkungan hidup generasi alpha sejak usia dini secara signifikan. Akses informasi tanpa batas meningkatkan tantangan moral, karakter, dan spiritualitas generasi alpha kontemporer. Pendidikan Kristen diperlukan membangun integritas, tanggung jawab, discernment etis, dan karakter Kristiani berkelanjutan. Fenomena budaya digital memperkuat relativisme moral, validasi sosial, konsumerisme, dan melemahnya disiplin spiritual. Penelitian bertujuan menganalisis pendidikan Kristen sebagai landasan moral generasi alpha menghadapi realitas zaman. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif dengan analisis tematik, interpretasi fenomenologis, dan sintesis teologis reflektif. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan Kristen memperkuat identitas iman, karakter, dan tanggung jawab etis generasi alpha. Literasi digital, spiritualitas, dan keteladanan pendidik memperkuat ketahanan moral menghadapi perubahan budaya kontemporer. Penelitian menawarkan Christian Transformative Moral Formation Model bagi pembentukan moral generasi alpha kontekstual digital. Model mengintegrasikan Biblical Formation, Christlike Character, Digital Ethical Discernment, dan Transformative Christian Living. Pendidikan Kristen berkontribusi membangun keteguhan moral, spiritualitas, dan literasi digital Generasi alpha berkelanjutan. Penelitian selanjutnya disarankan menguji efektivitas model melalui kajian lapangan dan pendekatan empiris berkelanjutan.
Peran Pendidikan Agama Kristen sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Bullying di Sekolah Ruhut Parningotan Tambunan; Yonatan Alex Arifianto
Basileus Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : Basilius Eirene Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63436/bejap.v4i1.78

Abstract

Pendidikan Agama Kristen memiliki peran penting dalam pencegahan perilaku bullying di sekolah. Bullying sering kali muncul akibat kurangnya kesadaran moral dan hubungan sosial yang harmonis. Penanaman nilai-nilai kasih, pengampunan, keadilan, dan toleransi yang diajarkan dalam Alkitab dapat membentuk karakter siswa yang berempati dan menghargai sesama, serta meningkatkan kesadaran akan martabat manusia yang diciptakan sesuai citra Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran Pendidikan Agama Kristen dalam pencegahan bullying di sekolah melalui pendekatan spiritual dan nilai moral berbasis ajaran Kristen. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui teladan guru, doa, renungan, dan pembinaan rohani, Pendidikan Agama Kristen dapat menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan damai. Penanaman nilai-nilai Kristen berperan dalam membentuk karakter siswa yang memiliki moralitas tinggi dan dapat mengurangi terjadinya bullying. Manfaat penelitiannya, dalam pendidikan Agama Kristen menawarkan solusi holistik dalam mencegah bullying dan membangun komunitas sekolah yang bebas dari kekerasan.
Kontribusi Kecerdasan Emosional Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar Siti Sarciana Dewija Adu; Ruhut Parningotan Tambunan; Yonatan Alex Arifianto
Tikkun-Olam: Jurnal Penelitian & PKM Vol 2, No 1 (2025): Tikkun-Olam: Jurnal Penelitian & PKM - April 2025
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/jto.v2i1.266

Abstract

This study aims to identify the contribution of teachers‘ emotional intelligence to students’ learning motivation in primary schools. Emotional intelligence, which includes the ability to recognise, understand and manage emotions, is one of the important elements in creating a positive and supportive learning environment. This study uses a quantitative approach with a survey method to teachers and students in various primary schools. The results show that teachers‘ emotional intelligence has a significant relationship with students’ learning motivation. Teachers who are able to demonstrate empathy, self-control and social skills tend to increase students' enthusiasm for learning, strengthen classroom interactions and create an inclusive atmosphere. The findings provide insights for the development of teacher training strategies to improve their emotional intelligence as a way to foster better student learning outcomes. This research makes a unique contribution by highlighting the importance of teachers' emotional intelligence in the context of primary education, a theme that is relatively under-explored in the field of education research. The study also adds a new dimension to the understanding of how emotional intelligence can directly influence students' intrinsic and extrinsic motivation. This approach helps to enrich the existing literature by building a foundation for the development of emotion-based training for teachers. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi kontribusi kecerdasan emosional guru terhadap motivasi belajar siswa di sekolah dasar. Kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi merupakan elemen penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Dengan pendekatan kualitatif melalui observasi terhadap guru dan siswa di beberapa sekolah dasar, hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional guru berhubungan signifikan dengan motivasi belajar siswa. Guru yang mampu menunjukkan empati, pengendalian diri, dan keterampilan sosial cenderung meningkatkan semangat belajar siswa, memperkuat interaksi kelas, dan menciptakan suasana inklusif. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan pelatihan guru untuk meningkatkan kecerdasan emosional sebagai strategi mendukung hasil belajar siswa. Penelitian ini juga memberikan kontribusi unik dengan menyoroti peran kecerdasan emosional dalam pendidikan dasar—tema yang masih jarang dieksplorasi serta menambah pemahaman tentang pengaruh langsung kecerdasan emosional terhadap motivasi intrinsik dan ekstrinsik siswa. Pendekatan ini memperkaya literatur pendidikan dan menjadi dasar bagi pengembangan pelatihan guru berbasis emosi.