Fadilah Yasmin Nur Ummi Siddik
Universitas Abdurrab, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Resiliensi Energi Indonesia di Tengah Krisis Selat Hormuz: Peran Biodiesel Sawit dan Hilirisasi Nikel sebagai Instrumen Pertahanan Geoekonomi Tahun 2026 Fadilah Yasmin Nur Ummi Siddik; Ushwatul Jannah
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v3i2.913

Abstract

Krisis geopolitik di Selat Hormuz tahun 2026 yang melibatkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang mengancam stabilitas fiskal Indonesia. Sebagai jalur distribusi 20% pasokan minyak global, gangguan navigasi di wilayah ini meningkatkan volatilitas harga energi secara drastis, tercermin dalam tren bullish harga minyak West Texas Intermediate (WTI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi resiliensi energi Indonesia melalui optimalisasi kekayaan sumber daya alam domestik sebagai instrumen pertahanan ekonomi. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar $1 per barrel berimplikasi pada pembengkakan beban subsidi APBN hingga Rp6,8 triliun. Pemerintah mengimplementasikan kebijakan biodiesel sawit (B50) yang mampu menggantikan solar impor secara fisik dan diproyeksikan menghemat devisa negara hingga Rp 48 triliun untuk memitigasi resiko terssebut. Kebijakan hilirisasi nikel memberikan kontribusi finansial melalui peningkatan pendapatan negara yang digunakan sebagai subsidi silang untuk menambal beban energi secara beriringan. Sinergi antara kedaulatan sumber daya hayati dan mineral ini bertindak sebagai perisai fiskal yang memungkinkan Indonesia memiliki daya tahan ekonomi yang lebih stabil dibandingkan negara – negara lain yang tidak memiliki komoditas serupa di tengah ketidakpastian geopolitik global.