Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Strategi Interoperabilitas Komando Kendali Sistem Komunikasi Operasi Dengan Menggunakan Teknologi Internet Protocol Site Connect Dalam Rangka Mendukung Operasi Pengamanan Daerah Rawan Papua Ilham Wahyu Nugroho; Haryo Mustoko; Jimmy Veni Tokio T
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i2.8058

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya interoperabilitas Sistem Komunikasi Operasi (Siskomops) dalam mendukung komando dan kendali satuan tugas TNI di wilayah rawan Papua. Heterogenitas alat komunikasi analog dan digital, keterbatasan jangkauan HF/SSB, kontur geografis yang ekstrem, serta tidak adanya integrasi berbasis IP menyebabkan terjadinya perlambatan arus informasi dan menurunnya efektivitas kendali operasi. Kondisi tersebut menuntut adanya strategi modernisasi komunikasi operasi dengan pendekatan teknologi yang adaptif, aman, dan kompatibel dengan struktur satuan di lapangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi interoperabilitas komando kendali melalui pemanfaatan teknologi Internet Protocol Site Connect (IPSC) sebagai backbone komunikasi digital di daerah rawan. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi, serta memverifikasi keabsahan data melalui triangulasi sumber dan metode Analisis dilakukan secara tematik dengan mengintegrasikan teori sistem pertahanan negara, komunikasi militer modern, interoperabilitas, dan arsitektur C4ISR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siskomops Satgas di Papua masih terfragmentasi, tidak standar, dan sangat bergantung pada kondisi geografis. Penerapan IPSC mampu menyediakan jaringan taktis berbasis IP yang real-time, aman, dan terintegrasi. Integrasi Radio over Internet Protocol (RoIP) memungkinkan alkom analog dan digital beroperasi dalam satu jaringan terpadu. Penelitian ini juga menghasilkan rancangan SOP komunikasi digital untuk operasi daerah rawan yang mencakup struktur talkgroup, prosedur pelaporan, protokol keamanan komunikasi, mekanisme failover, dan tata kelola monitoring jaringan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi interoperabilitas berbasis IPSC memberikan solusi praktis sekaligus kontribusi teoretis terhadap penguatan Siskomops dalam perspektif C4ISR. Rekomendasi diarahkan kepada komando atas untuk modernisasi infrastruktur digital Satgas dan penyusunan kebijakan standar komunikasi operasi TNI di Papua.
Strategi Interaksi Satuan Tugas Batalyon Gerak Cepat Monusco dengan Masyarakat Lokal dalam Operasi Misi Perdamaian di Kongo Nuzul Andri Sujatmiko; Haryo Mustoko; Jimmy Veni Tokio
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i2.8065

Abstract

Penelitian ini membahas strategi interaksi Satuan Tugas Batalyon Gerak Cepat (Satgas BGC) TNI dengan masyarakat lokal dalam pelaksanaan misi perdamaian MONUSCO di Republik Demokratik Kongo. Penelitian bertujuan menganalisis bentuk interaksi, dampaknya terhadap keberhasilan misi, hambatan yang dihadapi, serta strategi peningkatan efektivitas interaksi. Penelitian dilaksanakan pada konteks penugasan Satgas BGC di wilayah operasi MONUSCO menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dilakukan melalui komunikasi sosial, patroli perlindungan warga, kegiatan kemanusiaan, serta koordinasi dengan tokoh dan otoritas lokal. Interaksi tersebut meningkatkan penerimaan masyarakat dan mendukung stabilitas wilayah, meskipun masih terdapat hambatan bahasa, perbedaan budaya, dan tingkat kepercayaan awal masyarakat. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan cultural intelligence, penggunaan interpreter lokal, dan pendekatan berbasis kebutuhan komunitas menjadi strategi utama peningkatan efektivitas interaksi.
Strategi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI Dalam Penyiapan dan Pembekalan Satgas Force Head Quarter Support Unit (FHQSU) pada Misi PBB UNIFIL Stevanus Piay; Haryo Mustoko; Jimmy Veni Tokio Tiwow
Journal of Law, Education and Business Vol. 4 No. 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v4i2.8825

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang pasukan terbesar dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dan sejak tahun 2008 secara konsisten mengirimkan Satuan Tugas Force Head Quarter Support Unit (FHQSU) sebagai unsur pendukung operasional Markas Besar UNIFIL di Naqoura, Lebanon Selatan. Kualitas penyiapan dan pembekalan personel oleh Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP TNI) menjadi faktor penentu keberhasilan misi. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi PMPP TNI dalam penyiapan dan pembekalan Satgas FHQSU serta mengevaluasi efektivitasnya, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus fenomenologi melalui wawancara mendalam terhadap pejabat PMPP TNI, Komandan Satgas FHQSU, dan personel kunci yang diperkuat studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PMPP TNI mencakup seleksi personel berbasis kompetensi multidimensi meliputi kesehatan fisik dan psikologis, profesionalisme teknis, kemampuan bahasa, serta rekam jejak disiplin, yang kemudian dilanjutkan dengan Pre-Deployment Training (PDT) yang mengintegrasikan Core Pre-Deployment Training Material (CPTM) dan Specialized Technical Module (STM) mencakup hukum internasional, hak asasi manusia, kesadaran budaya lokal, latihan simulatif, dan komunikasi multinasional. Meskipun personel FHQSU mampu mempertahankan kinerja yang konsisten, terdapat kesenjangan antara standar ideal dan realitas lapangan pada aspek spesialisasi teknis, kemampuan bahasa, dan adaptasi budaya yang diatasi melalui pelatihan tambahan, pendampingan senior, dan mekanisme After Action Review (AAR). Penelitian ini merekomendasikan pengembangan sistem pemetaan kompetensi berbasis teknologi informasi serta penguatan evaluasi kinerja yang adaptif guna meningkatkan efektivitas Satgas FHQSU pada misi mendatang.
Strategi Adaptif-Humanis Kontingen Garuda XXXIX-A MONUSCO dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian di Republik Demokratik Kongo Riri Setiawan; Haryo Mustoko; Jimmy Veni Tokio Tiwow
Journal of Law, Education and Business Vol. 4 No. 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v4i2.8851

Abstract

Republik Demokratik Kongo merupakan salah satu wilayah konflik paling kompleks di dunia, dengan lebih dari 120 kelompok bersenjata dan jutaan pengungsi internal. Pascaserangan terhadap penjaga perdamaian di Semuliki pada 2017, Indonesia ditunjuk sebagai kontingen pengganti melalui Batalyon Gerak Cepat XXXIX-A MONUSCO di Provinsi Tanganyika. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran, tantangan, dan strategi Kontingen Garuda dalam pemeliharaan perdamaian di Kalemie. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus melalui wawancara terhadap lima informan kunci, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, dianalisis menggunakan model interaktif Miles-Huberman-Saldaña serta divalidasi melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan Kontingen Garuda menjalankan peran multidimensional sebagai fasilitator perdamaian humanis, menghadapi tantangan multidimensi, dan menerapkan strategi adaptif-humanis. Kebaruan penelitian terletak pada perumusan model strategi adaptif-humanis khas Indonesia melalui prinsip "5S" dan mekanisme after-action review yang menjadikan strategi efektif sekaligus berkelanjutan.
Strategi Adaptif-Kolaboratif Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan dalam Mencegah Kejahatan Lintas Batas di Perbatasan Republik Indonesia–Malaysia, Kalimantan Barat Rizal Fadly; Haryo Mustoko; Jimmy Veni Tokio Tiwow
Journal of Law, Education and Business Vol. 4 No. 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v4i2.8876

Abstract

Kawasan perbatasan Republik Indonesia–Malaysia di Kalimantan Barat merupakan koridor strategis sekaligus rawan yang dimanfaatkan untuk penyelundupan narkotika, barang ilegal, perdagangan orang, perlintasan nonprosedural, serta pemanfaatan jalur tikus oleh jaringan kriminal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi operasional Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, dan merumuskan strategi yang diterapkan guna mencegah kejahatan lintas batas. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap unsur Satgas Pamtas, pemerintah daerah, Polri, Bea Cukai, PLBN, dan masyarakat perbatasan di Entikong dan Jagoi Babang, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan Satgas Pamtas memiliki kesiapan operasional dan hubungan sosial yang baik, tetapi masih terkendala keterbatasan personel, teknologi pengawasan, pos, dan logistik di tengah medan sulit serta jaringan transnasional yang semakin adaptif. Strategi yang diterapkan memadukan patroli berlapis, operasi gabungan, deteksi dini berbasis intelijen, pembinaan teritorial, pelibatan masyarakat, dan teknologi seperti drone, CCTV, serta komunikasi terpadu. Penelitian menyimpulkan model pengamanan yang adaptif, kolaboratif, berbasis teknologi, dan berorientasi masyarakat, dengan Satgas Pamtas sebagai instrumen pertahanan sekaligus aktor stabilisasi sosial, ketahanan wilayah, dan collaborative border governance.