Wilayah rawan bencana menghadapkan ibu menyusui pada berbagai tantangan yang dapat mengganggu keberhasilan pemberian ASI eksklusif, seperti stres psikologis, terbatasnya akses layanan kesehatan, serta kurangnya dukungan keluarga. Kondisi tersebut meningkatkan risiko pemberian makanan pengganti ASI yang berdampak pada kesehatan bayi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan ketahanan ibu menyusui dalam mempertahankan ASI eksklusif melalui konseling berbasis WDEP (Wants, Doing, Evaluation, Planning). Program dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas yang berada di kawasan rawan bencana dengan melibatkan ibu hamil trimester III, ibu menyusui, suami, dan kader kesehatan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, konseling WDEP, pelatihan keluarga, simulasi manajemen laktasi pada situasi darurat, serta pendampingan pascakegiatan. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan, self-efficacy, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan komitmen mempertahankan ASI eksklusif. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya ASI eksklusif pada kondisi bencana, meningkatnya kepercayaan diri ibu dalam menyusui, serta semakin optimalnya dukungan keluarga. Program ini membuktikan bahwa konseling WDEP merupakan pendekatan yang efektif dalam memperkuat ketahanan ibu menyusui dan layak diterapkan sebagai model pemberdayaan masyarakat di wilayah rawan bencana guna mendukung keberhasilan ASI eksklusif.Kata kunci: ASI eksklusif, konseling WDEP, ketahanan ibu menyusui, kesiapsiagaan bencana