Mochammad Fahd Akbar
Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Pertimbangan Hakim dalam Menolak Permohonan Dispensasi Kawin pada Putusan Nomor 391/Pdt.P/2023/PA.Ngj: Perspektif Maslahah Mursalah Imam Malik Achmad Baharuddin; Mochammad Fahd Akbar
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 2 : INTEGRASI (JULI-DESEMBER 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i02.446

Abstract

Pemerintah Indonesia telah memperketat batas usia minimal pernikahan menjadi 19 tahun melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, namun kebijakan ini diiringi oleh lonjakan permohonan dispensasi kawin di pengadilan agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor pertimbangan hakim dalam menolak permohonan dispensasi kawin pada Putusan Pengadilan Agama Nganjuk Nomor 391/Pdt.P/2023/PA.Ngj serta mengkaji implementasi perlindungan anak dalam putusan tersebut ditinjau dari perspektif teori maslahah mursalah Imam Malik. Penelitian hukum normatif (doktrinal) ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) dengan teknik analisis deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim menolak permohonan dispensasi berdasarkan tiga faktor utama yang saling akumulatif: usia anak yang terlampau jauh dari batas minimal (16 tahun 5 bulan), ketiadaan alasan mendesak yang konkret (kekhawatiran orang tua akan perzinaan bersifat spekulatif), dan ketidakmatangan psikologis kedua calon mempelai yang dibuktikan melalui Hasil Pemeriksaan Psikologi Klinis. Ditinjau dari kerangka maslahah mursalah Imam Malik, putusan penolakan tersebut telah memenuhi syarat validitas kemaslahatan yang bersifat nyata (al-haqiqiyyah), berdimensi luas/umum (al-kulliyyah), serta tidak bertentangan dengan nash syar'i.
penelitian saya Rujuk Pascaiddah dalam Perspektif Fikih dan Kompilasi Hukum Islam: Studi di KUA Gudo Jombang: Indonesia Sultan Farid; Mochammad Fahd Akbar
Justicia Religia Vol 4 No 1 (2026): Justicia Religia: Jurnal Hukum Islam
Publisher : LPPM Universitas Al-Khairiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3898/jure.v4i1.581

Abstract

This study examines the practice of post-iddah reconciliation from the perspective of Islamic jurisprudence and the Compilation of Islamic Law (KHI), based on a study conducted at the Office of Religious Affairs (KUA) in Gudo Subdistrict, Jombang Regency. The research problem stems from the discovery of reconciliation requests filed after the iddah period has ended, even though under Islamic law, the right to reconciliation applies only during the iddah period of a raj‘i divorce. Once the iddah period is over, the marital relationship changes to talak bain sughra, so that in order to reunite, a new marriage contract must be performed. This study aims to analyze the provisions regarding post-iddah reconciliation according to Islamic jurisprudence and the Compilation of Islamic Law, as well as to examine the practices of handling such cases at the KUA in Gudo, Jombang. This study employs a qualitative approach using a juridical-empirical research design. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving the Head of the KUA, marriage officiants, and administrative staff. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and the drawing of conclusions using a descriptive-analytical approach. The results of the study indicate that remarriage after the end of the iddah period does not have legal validity as a remarriage; rather, it must be carried out through a new marriage contract in accordance with the provisions of fiqh and the KHI. Practices at the Gudo KUA show that officials have directed couples to perform a new marriage contract to ensure legal certainty and the protection of civil rights.